Ratih Kuspriyadani

Cewek yang mencoba untuk mengejar mimpi-mimpinya...

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang apa adanya

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang suka dengan dunianya

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM
PENGENALAN ALAT DAN TEKNIK STERILISASI



Oleh :
1.    Nur Afidatul Maulidiyah     (080914016)
2.    Citra Hardiyanti Rukmana (080914019)
3.    Ratih Kuspriyadani     (080914023)
4.    Lyna Febriyanti         (080914029)
5.    Evi Kustiningtyas         (080914031)
6.    Hendra Susilo         (080914053)
7.    Pratima Niana         (080914118)


DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
TAHUN 2010

I.     LANDASAN TEORI
Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan untuk keselamatan kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau bahkan berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur (Plummer, 1987).    Pentingnya dilakukan pengenalan alat-alat laboratorium adalah agar dapat diketahui cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisasi sedikit mungkin. Hal ini penting supaya saat melakukan penelitian, data yang diperoleh akan benar pula. Data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian harus dalam kondisi steril. Untuk mencapainya, maka diperlukan teknik sterilisasi. Sterilisasi ialah proses-proses untuk menjadikan peralatan dan bahan-bahan bebas dari semua bentuk kehidupan. Tujuan utamanya adalah supaya sebelum pengkulturan dapat mematikan mikroorganisme yang tidak diinginkan dan tidak turut tumbuh dalam kultur murni (suatu kultur mikroorganisme yang tersusun dari   sel-sel sejenis). Teknik Sterilisasi dibedakan menjadi empat kelompok, antara  lain : Sterilisasi fisik dengan panas, sterilisasi mekanik dengan filter, sterilisasi kimia, dan sterilisasi radiasi.

II.    TUJUAN
1.    Memperkenalkan kepada mahasiswa mengenai alat-alat yang diperlukan dalam penelitian mikrobiologi.
2.    Memperkenalkan kepada mahasiswa mengenai konsep dan teknik sterilisasi dan prosedur yang harus dilakukan untuk keberhasilan pengkulturan.
III.    ALAT DAN BAHAN
A.    ALAT
1.    Tabung reaksi
2.    Pipet volume
3.    Labu erlenmeyer
4.    Gelas beaker
5.    Jarum inokulasi
6.    Cawan petri(petri dish)
7.    Pembakar bunsen
8.    Korek api
9.    Pinset
10.    Pisau
B.    BAHAN
1.    Alumunium foil
2.    Kertas sampul coklat
3.    Kapas
4.    Alkohol
5.    Kertas label

IV.    CARA KERJA
1.    Persiapkan diri dengan memakai jas lab. sebelum masuk laboratorium hingga praktikum selesai, dan tidak lupa untuk membawa peralatan tulis untuk mencatat.
2.    Persiapkan diri untuk melakukan kunjungan ke laboratorium mikrobiologi umum.
3.    Perhatikan dan catat semua keterangan yang diberikan oleh dosen pendamping ketika pengenalan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum mikrobiologi umum.
4.    Setelah pengenalan dan penjelasan cara kerja alat-alat praktikum, siapkan alat-alat lain yang akan disterilkan, misalnya: petri dish, pipet volume, pisau, tabung reaksi, serta jarum inokulasi loop.
5.    Sterilkan meja kerja dengan menyemprotkan alkohol di atas meja yang akan digunakan untuk bekerja, kemudian dibersihkan dengan tisue kering dan pastikan tisu juga dalam kondisi bersih.
6.    Sterilkan tangan kita dengan menyemprotkan alkohol.
7.    Sterilkan alat-alat seperti cawan petri, pinset, pipet volume, dan pisau dengan dibungkus kertas sampul coklat. (Pastikan proses pembungkusan sesuai prosedur, sehingga dapat tertutup rapat).
8.    Sterilkan tabung reaksi dengan kapas yang disumbatkan ke mulut tabung reaksi (pastikan terdengar bunyi udara dari mulut tabung tersebut, ketika kapas dicabut).
9.    Nyalakan api bunsen.
10.    Lakukan teknik sterilisasi pada jarum inokulasi loop, yakni dengan membakar ujung jarum. Peganglah jarum dengan posisi agak tegak di atas api, bakar jarum hingga berpijar dan pijar merambat hingga pangkal bagian logam jarum.
11.    Lakukan teknik sterilisasi pada petri dengan memutar petri, sehingga sekeliling bagian bawah terkena api  bunsen, dilakukan satu kali putaran saja.Begitu pula teknik ini dilakukan pada mulut tabung reaksi (teknik ini dilakukan ketika akan dilakukan pengembang biakan pada media).
12.    Rapikan dan simpan alat-alat yang telah digunakan tadi untuk praktikum selanjutnya.



V.    HASIL PENGAMATAN
1.1  ALAT DAN CARA KERJA
1. Tabung reaksi
Tabung reaksi digunakan untuk menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak dan agar miring. Untuk keefektifan dalam bekerja, media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml tiap tabung.

2. Labu Erlenmeyer
Labu erlenmeyer berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang akan digunakan dalam suatu pengkulturan. Labu Erlenmeyer juga dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung akuades, serta mengkultivasi mikroba dalam kultur cair.
3. Pembakar Bunsen
Fungsi utama dari pembakar bunsen adalah ntuk menciptakan kondisi yang steril. Untuk sterilisasi jarum ose, mulut tabung reaksi, dan cawan petri, bagian api yang paling cocok untuk memijarkannya adalah bagian api yang berwarna biru. Perubahan bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau metanol.
4. Jarum Inokulum
Jarum inokulum berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam atau ditumbuhkan ke media baru. Jarum inokulum biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum sehingga dapat berpijar jika terkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk lingkaran dan disebut ose dan yang berbentuk lurus disebut inoculating.
5. Pinset
Pinset memiliki banyak fungsi diantaranya adalah untuk mengambil benda dengan menjepit misalnya saat memindahkan cakram antibiotik.

6.    Neraca analitik
Alat ini berfungsi seperti timbangan. Alat ini mempunyai ketelitian yang sangat keci, sehingga dalam penggunaannya, hasil yang didapat dari penimbangan alat ini sangat akurat.


7. Sentrifuge
Alat ini digunakan untuk memisahkan suatu larutan berdasarkan berat jenis masing-masing bahan terlarut. Alat ini menggunakan prinsip gaya sentrifugal. Dengan adanya prinsip tersebut maka pada hasilnya akan didapatkan suatu endapan. Dalam penggunaan alat ini, kita harus seimbang saat menaruh tabung reksinya agar putarannya seimbang dan agar alat ini tidak cepat rusak.
8. Shaker
Shaker digunakan untuk menshaker suspensi mikroba dengan tujuan mendapatkan aerasi.

9.    Waterbath
Alat ini digunakan untuk menyimpan media yang baru diambil dari autoklaf. Biasanya media-media tersebut ada yang langsung dipakai ada yang tidak. Sehingga untuk menjaga suhu media tersebut tetap konstan (sekitar 50 C) atau supaya media tidak cepat membeku lagi biasanya menggunakan alat ini.
10.    Koloni counter
Alat ini digunakan untuk mempermudah kita dalam menghitung banyaknya mikroba yang ada pada suatu biakan atau kultur. Dalam penggunaannya, kita bisa menghitungnya langsung dalam satu lingkaran penuh atau kita bisa menghitunya dengan cara membagi lingkaran tersebut menjadi empat kuadran.
11.    Spektrofotometri
Alat ini digunakan untuk mengetahui tingkat kekeruhan dan densitas suatu mikroba. Hasilnya bisa kita ketahui dari petunjuk jarum yang ada di situ.

12.    Oven
Alat ini merupakan salah satu alat dalam teknik sterilisasi panas. Alat ini menggunakan panas kering. Dalam penggunaannya, alat ini di setting dalam suhu yang tinggi (160º atau 180ºC). Biasanya digunakan untuk mensterilkan alat-alat glass. 
13.    Lemari asam
Alat ini digunakan untuk menyimpan bahan-bahan asam. Tujuannya untuk keselamatan kita agar terhindar dari tumpahan bahan tersebut. Selain itu, agar bahan-bahan tersebut tidak cepat menguap.

14. Lemari es
 Lemari es digunakan sebagai tempat penyimpan biakan atau kultur.


14.    Autoklaf
        Alat ini juga termasuk salah satu alat  dalam teknik sterilisasi panas. Alat ini menggunakan panas lembab bertekanan. Prinsip kerja alat ini tidak jauh beda dengan dandang atau alat presto. Alat ini biasanya bekerja efektif pada suhu sekitar 121º C.
Cara menggunakan Autoklaf:
a.    Isi air dalam autoklaf kurang lebih 2 cm dibawah keranjang atau 3-5 liter air.
b.    Pastikan alat yang akan disterilkan dapat terkena uap dalam autoklaf.
c.    Tutup rapat autoklaf dan atur lama waktunya,sekitar 20 menit dan tekanan 1 atm.
d.    Pastikan tabung exhaust terbuka sedangkan tabung drainnya tertutup.
e.    Setelah uapnya keluar atau terdengar bunyi mendesis, segera tutup tabung exhaustnya.
f.    Saat alarm berbunyi yang menandakan bahwa sterilisasi telah selesai, jangan langsung membuka tutup autoklaf, tetapi tunggu hingga jarum tekanan menunjukkan angka 0.
            

15.    Laminar air flow
Alat ini digunakan dalam teknik sterilisasi radiasi. Kita juga dapat bekerja di dalam ruangan ini. Alat ini terletak khusus dalam satu ruang yang disebut ruang steril. Penggunaan alat tersebut adalah untuk mensterilisasikan udara ditempat kerja, sehingga kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan dan pengambilan mikroba dapat dilakukan di sekitar laminar air flow.
Cara menggunakan Laminar Air Flow:
1.  Hidupkan lampu UV sekitar 5-10 menit, selanjutnya matikan segera sebelum mulai bekerja.
2.  Pastikan kaca penutup terkunci dan pada posisi terendah.
3.  Nyalakan lampu neon dan blower.
4.  Biarkan selama 5 menit.
5.  Cuci tangan dan lengan dengan alkohol 70 %
6.  Usap permukaan interior Laminar Air Flow dengan alkohol 70 % atau  desinfektan yang cocok dan biarkan menguap.
7.     Masukkan alat dan bahan yang akan dikerjakan, jangan terlalu penuh, karena memperbesar resiko kontaminasi.
8.     Atur alat dan bahan yang telah dimasukan ke Laminar Air Flow sedemikian rupa sehingga efektif dalam bekerja dan tercipta areal yang benar-benar steril.
9.     Jangan menggunakan pembakar Bunsen dengan bahan bakar alkohol tapi gunakan yang berbahan bakar gas.
10. Kerja secara aseptis dan jangan sampai pola aliran udara terganggu oleh aktivitas kerja.
11. Setelah selesai bekerja, biarkan 2-3 menit supaya kontaminan tidak keluar dari   Laminar Air Flow.


1.2    TEKNIK STERILISASI
Cara mensterilkan tabung reaksi adalah dengan menggunakan kapas dan menutupnya dengan rapat, sehingga terdengar bunyi “plup” apabila kapas dilepaskan dari mulut tabung.
Jarum inokulum dipanaskan dengan menggunakan api bunsen secara merata dari ujung hingga pangkal jarum dengan posisi tegak atau dengan kemiringan 60ºC. Hal ini bertujuan untuk keefisienan kerja dalam proses sterilisasi.
Cara mensterilkan cawan petri adalah dengan membungkusnya dalam kertas sampul coklat dengan posisi tutup cawan berada di atas agar uap air tidak dapat masuk melalui celah antara cawan petri. Kemudian cawan petri diletakkan dalam oven. Apabila cawan akan digunakan dalam suatu pengkulturan, maka mulut cawan petri harus dibakar terlebih dahulu dengan memutarnya di dekat api bunsen.
 Cara mensterilkan pipet volum adalah dengan menutup bagian yang digunakan untuk meniup dengan kapas, kemudian dibungkus dengan menggunakan kertas coklat dan dimasukkan dalam oven. Saat membungkusnya dengan kertas coklat, usahakan agar bagian yang digunakan untuk meniup berada pada ujung lipatan agar memudahkan kita dalam menggunakannya.
Cara mensterilkan pinset tidak jauh berbeda dengan pipet volum, yaitu membungkusnya dengan kertas coklat kemudian dimasukkan dalam oven.
Cara mensterilkan labu erlenmeyer hampir sama dengan dengan tabung reaksi, yaitu menutupnya dengan kapas sampai rapat, kemudian dilapisi dengan aluminium foil. Kemudian dimasukkan ke dalam oven.
Catatan :    Meskipun sudah dibungkus dengan kertas coklat dan dimasukkan dalam oven, sebelum kita menggunakan alat tersebut kita harus mensterilkannya lagi dengan cara mendekatkan alat-alat tersebut dengan pembakar bunsen.

VI.    PEMBAHASAN
Dari praktikum yang telah kami lakukan, diperoleh hasil bahwa syarat utama bekerja di bidang mikrobiologi adalah sterilitas, baik sterilitas diri maupun alat-alat yang akan digunakan. Sebelum dan sesudah praktikum dilakukan, kita menggunakan alkohol untuk mensterilkan tangan dan meja kerja. Sedangkan untuk alat-alat yang akan digunakan,  cara mensterilkannya tergantung dari bahan dan jenis alat tersebut. Hal ini dikarenakan alat-alat tersebut mempunyai karakter dan perlakuan yang berbeda, serta mempunyai fungsi yang spesifik tergantung jenis alatnya. Alat yang terdapat di ruangan laboratorium seperti spektrofotometer, autoklaf, laminar air flow, neraca analitik, coloni counter, shaker, spektrofotometer, waterbath, oven, sentrifuge, dan destilasi air.
Ketika kita bekerja dalam pengkulturan, misalnya mengambil atau memindahkan mikroba, menuangkan media, kita harus melakukannya di dekat api bunsen. Hal ini bertujuan agar area sekitar kita bekerja bebas dari mikroba. Alat-alat penting lainnya adalah oven. Dalam menggunakan oven ini kita jangan sekali-kali memasukkan tangan ke dalamnya. Hal ini dikarenakan oven memiliki suhu di atas 200ºC. Sedangkan untuk autoklaf, hal yang perlu diperhatikan adalah ketika alarm tanda selesai sudah berbunyi, jangan langsung membukanya. Akan tetapi tunggu hingga jarum tekanan menunjukkan angka 0. Dalam menggunakan sentrifuge, keseimbangan tabung reaksi harus diperhatikan, karena akan mempengaruhi kinerja sentrifuge. Apabila berat larutan dalam tabung reaksi tidak seimbang, maka sentrifuge tidak dapat bekerja secara maksimal. Selain alat diatas, ada satu alat lagi yang biasa dipakai, yaitu laminar air flow. Karena alat ini menggunakan teknik radiasi, maka pada saat penggunaannya kita harus berhati-hati. Kita jangan terlalu dekat ketika sinar UV dinyalakan karena seperti yang kita ketahui bahwa sinar UV sangat berbahaya jika terkena tubuh kita secara langsung.
Terakhir, dalam melakukan sutau pekerjaan yang berhubungan dengan mirobilogi kiat dituntut untuk bisa mengerjakannya sendiri. Hal ini bertujuan selain untuk melatih skill kita dalam bidang mikrobiologi, tetapi juga untuk menghindari banyaknya kontaminan yang masuk ke dalam biakan.

VII.    KESIMPULAN
Alat-alat laboratorium yang biasanya digunakan dalam bidang mikrobiologi antara lain : pembakar bunsen, jarum oose, tabung reaksi, labu erlenmeyer, gelas beaker, petri dish, pipet, spektrofotometer, autoklaf, laminar air flow, neraca analitik, coloni counter, shaker, spektrofotometer, waterbath, oven, sentrifuge, dan destilasi air.
Syarat utama keberhasilan kerja dalam laboratorium Mikrobiologi adalah sterilitas. Berikut ini adalah garis besar teknik sterilisasi yang umumnya dilakukan dalam laboratorium Mikrobiologi :
    - Sterilisasi fisik dengan panas meliputi panas kering, panas lembab, panas     lembab bertekanan. Contohnya : dengan oven dan autoklaf.
    - Sterilisasi mekanik dengan filtrasi . Misalnya sintered glass.
    - Sterilisasi kimia dengan zat-zat kimia. Misalnya larutan desinfektan, alkohol,     formalin, dll.
    - Sterilisasi radiasi, menggunakan laminar air flow.


VIII.    DAFTAR PUSTAKA
Anonim 1995. Farmakope Indonesia Ed. IV. Jakarta: Departemen Kesehatan     Republik Indonesia.
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia. 
Ni’matuzahroh, Dr. dkk. 2010. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Surabaya: Airlangga University Press.
Pelezar, Michael J,et al. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi Terjemahan. Jakarta : UI      Press.












One Response so far.

  1. are says:

    thank's ya. untuk laminar air flow ada yg sy kritisi nih, pointnya di sterilisasi radiasi. LAF itu adalah ruangan yg dibuat steril dari partikulat dan mikroorganisme dengan menggunakan metode air flow. Jd udara ambient yg di filter melalui 2 tahapan. 1. udara ambient masuk k prefilter-masuk k blower (sebagai tekanan statik) diteruskan k HEPA Filter. Efektivitas filter 99,97%-0.3 mikron. kalaupun digunakan sinar UV itu sifatnya optional. dan kita tahu bahayanya sinar UV. bisa menyebabkan kerusakan mata dan kulit. Kalaupun mau menggunakan ada prosedur khusus yg harus dijalani. tks.

Leave a Reply

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .

Tuesday, November 30, 2010

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM PENGENALAN ALAT DAN TEKNIK STERILISASI

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UMUM
PENGENALAN ALAT DAN TEKNIK STERILISASI



Oleh :
1.    Nur Afidatul Maulidiyah     (080914016)
2.    Citra Hardiyanti Rukmana (080914019)
3.    Ratih Kuspriyadani     (080914023)
4.    Lyna Febriyanti         (080914029)
5.    Evi Kustiningtyas         (080914031)
6.    Hendra Susilo         (080914053)
7.    Pratima Niana         (080914118)


DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
TAHUN 2010

I.     LANDASAN TEORI
Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan untuk keselamatan kerja saat melakukan penelitian. Alat-alat laboratorium biasanya dapat rusak atau bahkan berbahaya jika penggunaannya tidak sesuai dengan prosedur (Plummer, 1987).    Pentingnya dilakukan pengenalan alat-alat laboratorium adalah agar dapat diketahui cara penggunaan alat tersebut dengan baik dan benar, sehingga kesalahan prosedur pemakaian alat dapat diminimalisasi sedikit mungkin. Hal ini penting supaya saat melakukan penelitian, data yang diperoleh akan benar pula. Data-data yang tepat akan meningkatkan kualitas penelitian seseorang. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian harus dalam kondisi steril. Untuk mencapainya, maka diperlukan teknik sterilisasi. Sterilisasi ialah proses-proses untuk menjadikan peralatan dan bahan-bahan bebas dari semua bentuk kehidupan. Tujuan utamanya adalah supaya sebelum pengkulturan dapat mematikan mikroorganisme yang tidak diinginkan dan tidak turut tumbuh dalam kultur murni (suatu kultur mikroorganisme yang tersusun dari   sel-sel sejenis). Teknik Sterilisasi dibedakan menjadi empat kelompok, antara  lain : Sterilisasi fisik dengan panas, sterilisasi mekanik dengan filter, sterilisasi kimia, dan sterilisasi radiasi.

II.    TUJUAN
1.    Memperkenalkan kepada mahasiswa mengenai alat-alat yang diperlukan dalam penelitian mikrobiologi.
2.    Memperkenalkan kepada mahasiswa mengenai konsep dan teknik sterilisasi dan prosedur yang harus dilakukan untuk keberhasilan pengkulturan.
III.    ALAT DAN BAHAN
A.    ALAT
1.    Tabung reaksi
2.    Pipet volume
3.    Labu erlenmeyer
4.    Gelas beaker
5.    Jarum inokulasi
6.    Cawan petri(petri dish)
7.    Pembakar bunsen
8.    Korek api
9.    Pinset
10.    Pisau
B.    BAHAN
1.    Alumunium foil
2.    Kertas sampul coklat
3.    Kapas
4.    Alkohol
5.    Kertas label

IV.    CARA KERJA
1.    Persiapkan diri dengan memakai jas lab. sebelum masuk laboratorium hingga praktikum selesai, dan tidak lupa untuk membawa peralatan tulis untuk mencatat.
2.    Persiapkan diri untuk melakukan kunjungan ke laboratorium mikrobiologi umum.
3.    Perhatikan dan catat semua keterangan yang diberikan oleh dosen pendamping ketika pengenalan alat-alat yang akan digunakan dalam praktikum mikrobiologi umum.
4.    Setelah pengenalan dan penjelasan cara kerja alat-alat praktikum, siapkan alat-alat lain yang akan disterilkan, misalnya: petri dish, pipet volume, pisau, tabung reaksi, serta jarum inokulasi loop.
5.    Sterilkan meja kerja dengan menyemprotkan alkohol di atas meja yang akan digunakan untuk bekerja, kemudian dibersihkan dengan tisue kering dan pastikan tisu juga dalam kondisi bersih.
6.    Sterilkan tangan kita dengan menyemprotkan alkohol.
7.    Sterilkan alat-alat seperti cawan petri, pinset, pipet volume, dan pisau dengan dibungkus kertas sampul coklat. (Pastikan proses pembungkusan sesuai prosedur, sehingga dapat tertutup rapat).
8.    Sterilkan tabung reaksi dengan kapas yang disumbatkan ke mulut tabung reaksi (pastikan terdengar bunyi udara dari mulut tabung tersebut, ketika kapas dicabut).
9.    Nyalakan api bunsen.
10.    Lakukan teknik sterilisasi pada jarum inokulasi loop, yakni dengan membakar ujung jarum. Peganglah jarum dengan posisi agak tegak di atas api, bakar jarum hingga berpijar dan pijar merambat hingga pangkal bagian logam jarum.
11.    Lakukan teknik sterilisasi pada petri dengan memutar petri, sehingga sekeliling bagian bawah terkena api  bunsen, dilakukan satu kali putaran saja.Begitu pula teknik ini dilakukan pada mulut tabung reaksi (teknik ini dilakukan ketika akan dilakukan pengembang biakan pada media).
12.    Rapikan dan simpan alat-alat yang telah digunakan tadi untuk praktikum selanjutnya.



V.    HASIL PENGAMATAN
1.1  ALAT DAN CARA KERJA
1. Tabung reaksi
Tabung reaksi digunakan untuk menumbuhkan mikroba. Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak dan agar miring. Untuk keefektifan dalam bekerja, media yang ditambahkan berkisar 10-12 ml tiap tabung.

2. Labu Erlenmeyer
Labu erlenmeyer berfungsi untuk menampung larutan, bahan atau cairan yang akan digunakan dalam suatu pengkulturan. Labu Erlenmeyer juga dapat digunakan untuk meracik dan menghomogenkan bahan-bahan komposisi media, menampung akuades, serta mengkultivasi mikroba dalam kultur cair.
3. Pembakar Bunsen
Fungsi utama dari pembakar bunsen adalah ntuk menciptakan kondisi yang steril. Untuk sterilisasi jarum ose, mulut tabung reaksi, dan cawan petri, bagian api yang paling cocok untuk memijarkannya adalah bagian api yang berwarna biru. Perubahan bunsen dapat menggunakan bahan bakar gas atau metanol.
4. Jarum Inokulum
Jarum inokulum berfungsi untuk memindahkan biakan untuk ditanam atau ditumbuhkan ke media baru. Jarum inokulum biasanya terbuat dari kawat nichrome atau platinum sehingga dapat berpijar jika terkena panas. Bentuk ujung jarum dapat berbentuk lingkaran dan disebut ose dan yang berbentuk lurus disebut inoculating.
5. Pinset
Pinset memiliki banyak fungsi diantaranya adalah untuk mengambil benda dengan menjepit misalnya saat memindahkan cakram antibiotik.

6.    Neraca analitik
Alat ini berfungsi seperti timbangan. Alat ini mempunyai ketelitian yang sangat keci, sehingga dalam penggunaannya, hasil yang didapat dari penimbangan alat ini sangat akurat.


7. Sentrifuge
Alat ini digunakan untuk memisahkan suatu larutan berdasarkan berat jenis masing-masing bahan terlarut. Alat ini menggunakan prinsip gaya sentrifugal. Dengan adanya prinsip tersebut maka pada hasilnya akan didapatkan suatu endapan. Dalam penggunaan alat ini, kita harus seimbang saat menaruh tabung reksinya agar putarannya seimbang dan agar alat ini tidak cepat rusak.
8. Shaker
Shaker digunakan untuk menshaker suspensi mikroba dengan tujuan mendapatkan aerasi.

9.    Waterbath
Alat ini digunakan untuk menyimpan media yang baru diambil dari autoklaf. Biasanya media-media tersebut ada yang langsung dipakai ada yang tidak. Sehingga untuk menjaga suhu media tersebut tetap konstan (sekitar 50 C) atau supaya media tidak cepat membeku lagi biasanya menggunakan alat ini.
10.    Koloni counter
Alat ini digunakan untuk mempermudah kita dalam menghitung banyaknya mikroba yang ada pada suatu biakan atau kultur. Dalam penggunaannya, kita bisa menghitungnya langsung dalam satu lingkaran penuh atau kita bisa menghitunya dengan cara membagi lingkaran tersebut menjadi empat kuadran.
11.    Spektrofotometri
Alat ini digunakan untuk mengetahui tingkat kekeruhan dan densitas suatu mikroba. Hasilnya bisa kita ketahui dari petunjuk jarum yang ada di situ.

12.    Oven
Alat ini merupakan salah satu alat dalam teknik sterilisasi panas. Alat ini menggunakan panas kering. Dalam penggunaannya, alat ini di setting dalam suhu yang tinggi (160º atau 180ºC). Biasanya digunakan untuk mensterilkan alat-alat glass. 
13.    Lemari asam
Alat ini digunakan untuk menyimpan bahan-bahan asam. Tujuannya untuk keselamatan kita agar terhindar dari tumpahan bahan tersebut. Selain itu, agar bahan-bahan tersebut tidak cepat menguap.

14. Lemari es
 Lemari es digunakan sebagai tempat penyimpan biakan atau kultur.


14.    Autoklaf
        Alat ini juga termasuk salah satu alat  dalam teknik sterilisasi panas. Alat ini menggunakan panas lembab bertekanan. Prinsip kerja alat ini tidak jauh beda dengan dandang atau alat presto. Alat ini biasanya bekerja efektif pada suhu sekitar 121º C.
Cara menggunakan Autoklaf:
a.    Isi air dalam autoklaf kurang lebih 2 cm dibawah keranjang atau 3-5 liter air.
b.    Pastikan alat yang akan disterilkan dapat terkena uap dalam autoklaf.
c.    Tutup rapat autoklaf dan atur lama waktunya,sekitar 20 menit dan tekanan 1 atm.
d.    Pastikan tabung exhaust terbuka sedangkan tabung drainnya tertutup.
e.    Setelah uapnya keluar atau terdengar bunyi mendesis, segera tutup tabung exhaustnya.
f.    Saat alarm berbunyi yang menandakan bahwa sterilisasi telah selesai, jangan langsung membuka tutup autoklaf, tetapi tunggu hingga jarum tekanan menunjukkan angka 0.
            

15.    Laminar air flow
Alat ini digunakan dalam teknik sterilisasi radiasi. Kita juga dapat bekerja di dalam ruangan ini. Alat ini terletak khusus dalam satu ruang yang disebut ruang steril. Penggunaan alat tersebut adalah untuk mensterilisasikan udara ditempat kerja, sehingga kegiatan yang berkaitan dengan pemindahan dan pengambilan mikroba dapat dilakukan di sekitar laminar air flow.
Cara menggunakan Laminar Air Flow:
1.  Hidupkan lampu UV sekitar 5-10 menit, selanjutnya matikan segera sebelum mulai bekerja.
2.  Pastikan kaca penutup terkunci dan pada posisi terendah.
3.  Nyalakan lampu neon dan blower.
4.  Biarkan selama 5 menit.
5.  Cuci tangan dan lengan dengan alkohol 70 %
6.  Usap permukaan interior Laminar Air Flow dengan alkohol 70 % atau  desinfektan yang cocok dan biarkan menguap.
7.     Masukkan alat dan bahan yang akan dikerjakan, jangan terlalu penuh, karena memperbesar resiko kontaminasi.
8.     Atur alat dan bahan yang telah dimasukan ke Laminar Air Flow sedemikian rupa sehingga efektif dalam bekerja dan tercipta areal yang benar-benar steril.
9.     Jangan menggunakan pembakar Bunsen dengan bahan bakar alkohol tapi gunakan yang berbahan bakar gas.
10. Kerja secara aseptis dan jangan sampai pola aliran udara terganggu oleh aktivitas kerja.
11. Setelah selesai bekerja, biarkan 2-3 menit supaya kontaminan tidak keluar dari   Laminar Air Flow.


1.2    TEKNIK STERILISASI
Cara mensterilkan tabung reaksi adalah dengan menggunakan kapas dan menutupnya dengan rapat, sehingga terdengar bunyi “plup” apabila kapas dilepaskan dari mulut tabung.
Jarum inokulum dipanaskan dengan menggunakan api bunsen secara merata dari ujung hingga pangkal jarum dengan posisi tegak atau dengan kemiringan 60ºC. Hal ini bertujuan untuk keefisienan kerja dalam proses sterilisasi.
Cara mensterilkan cawan petri adalah dengan membungkusnya dalam kertas sampul coklat dengan posisi tutup cawan berada di atas agar uap air tidak dapat masuk melalui celah antara cawan petri. Kemudian cawan petri diletakkan dalam oven. Apabila cawan akan digunakan dalam suatu pengkulturan, maka mulut cawan petri harus dibakar terlebih dahulu dengan memutarnya di dekat api bunsen.
 Cara mensterilkan pipet volum adalah dengan menutup bagian yang digunakan untuk meniup dengan kapas, kemudian dibungkus dengan menggunakan kertas coklat dan dimasukkan dalam oven. Saat membungkusnya dengan kertas coklat, usahakan agar bagian yang digunakan untuk meniup berada pada ujung lipatan agar memudahkan kita dalam menggunakannya.
Cara mensterilkan pinset tidak jauh berbeda dengan pipet volum, yaitu membungkusnya dengan kertas coklat kemudian dimasukkan dalam oven.
Cara mensterilkan labu erlenmeyer hampir sama dengan dengan tabung reaksi, yaitu menutupnya dengan kapas sampai rapat, kemudian dilapisi dengan aluminium foil. Kemudian dimasukkan ke dalam oven.
Catatan :    Meskipun sudah dibungkus dengan kertas coklat dan dimasukkan dalam oven, sebelum kita menggunakan alat tersebut kita harus mensterilkannya lagi dengan cara mendekatkan alat-alat tersebut dengan pembakar bunsen.

VI.    PEMBAHASAN
Dari praktikum yang telah kami lakukan, diperoleh hasil bahwa syarat utama bekerja di bidang mikrobiologi adalah sterilitas, baik sterilitas diri maupun alat-alat yang akan digunakan. Sebelum dan sesudah praktikum dilakukan, kita menggunakan alkohol untuk mensterilkan tangan dan meja kerja. Sedangkan untuk alat-alat yang akan digunakan,  cara mensterilkannya tergantung dari bahan dan jenis alat tersebut. Hal ini dikarenakan alat-alat tersebut mempunyai karakter dan perlakuan yang berbeda, serta mempunyai fungsi yang spesifik tergantung jenis alatnya. Alat yang terdapat di ruangan laboratorium seperti spektrofotometer, autoklaf, laminar air flow, neraca analitik, coloni counter, shaker, spektrofotometer, waterbath, oven, sentrifuge, dan destilasi air.
Ketika kita bekerja dalam pengkulturan, misalnya mengambil atau memindahkan mikroba, menuangkan media, kita harus melakukannya di dekat api bunsen. Hal ini bertujuan agar area sekitar kita bekerja bebas dari mikroba. Alat-alat penting lainnya adalah oven. Dalam menggunakan oven ini kita jangan sekali-kali memasukkan tangan ke dalamnya. Hal ini dikarenakan oven memiliki suhu di atas 200ºC. Sedangkan untuk autoklaf, hal yang perlu diperhatikan adalah ketika alarm tanda selesai sudah berbunyi, jangan langsung membukanya. Akan tetapi tunggu hingga jarum tekanan menunjukkan angka 0. Dalam menggunakan sentrifuge, keseimbangan tabung reaksi harus diperhatikan, karena akan mempengaruhi kinerja sentrifuge. Apabila berat larutan dalam tabung reaksi tidak seimbang, maka sentrifuge tidak dapat bekerja secara maksimal. Selain alat diatas, ada satu alat lagi yang biasa dipakai, yaitu laminar air flow. Karena alat ini menggunakan teknik radiasi, maka pada saat penggunaannya kita harus berhati-hati. Kita jangan terlalu dekat ketika sinar UV dinyalakan karena seperti yang kita ketahui bahwa sinar UV sangat berbahaya jika terkena tubuh kita secara langsung.
Terakhir, dalam melakukan sutau pekerjaan yang berhubungan dengan mirobilogi kiat dituntut untuk bisa mengerjakannya sendiri. Hal ini bertujuan selain untuk melatih skill kita dalam bidang mikrobiologi, tetapi juga untuk menghindari banyaknya kontaminan yang masuk ke dalam biakan.

VII.    KESIMPULAN
Alat-alat laboratorium yang biasanya digunakan dalam bidang mikrobiologi antara lain : pembakar bunsen, jarum oose, tabung reaksi, labu erlenmeyer, gelas beaker, petri dish, pipet, spektrofotometer, autoklaf, laminar air flow, neraca analitik, coloni counter, shaker, spektrofotometer, waterbath, oven, sentrifuge, dan destilasi air.
Syarat utama keberhasilan kerja dalam laboratorium Mikrobiologi adalah sterilitas. Berikut ini adalah garis besar teknik sterilisasi yang umumnya dilakukan dalam laboratorium Mikrobiologi :
    - Sterilisasi fisik dengan panas meliputi panas kering, panas lembab, panas     lembab bertekanan. Contohnya : dengan oven dan autoklaf.
    - Sterilisasi mekanik dengan filtrasi . Misalnya sintered glass.
    - Sterilisasi kimia dengan zat-zat kimia. Misalnya larutan desinfektan, alkohol,     formalin, dll.
    - Sterilisasi radiasi, menggunakan laminar air flow.


VIII.    DAFTAR PUSTAKA
Anonim 1995. Farmakope Indonesia Ed. IV. Jakarta: Departemen Kesehatan     Republik Indonesia.
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia. 
Ni’matuzahroh, Dr. dkk. 2010. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Surabaya: Airlangga University Press.
Pelezar, Michael J,et al. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi Terjemahan. Jakarta : UI      Press.












1 comment:

  1. thank's ya. untuk laminar air flow ada yg sy kritisi nih, pointnya di sterilisasi radiasi. LAF itu adalah ruangan yg dibuat steril dari partikulat dan mikroorganisme dengan menggunakan metode air flow. Jd udara ambient yg di filter melalui 2 tahapan. 1. udara ambient masuk k prefilter-masuk k blower (sebagai tekanan statik) diteruskan k HEPA Filter. Efektivitas filter 99,97%-0.3 mikron. kalaupun digunakan sinar UV itu sifatnya optional. dan kita tahu bahayanya sinar UV. bisa menyebabkan kerusakan mata dan kulit. Kalaupun mau menggunakan ada prosedur khusus yg harus dijalani. tks.

    ReplyDelete

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .