Ratih Kuspriyadani

Cewek yang mencoba untuk mengejar mimpi-mimpinya...

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang apa adanya

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang suka dengan dunianya

image by : link
Menanggapi berita yang kini tengah menjadi headline di masyarakat yaitu tentang cuti bersama yang mendadak, saya memiliki cerita sendiri yang mungkin sedikit menyedihkan apabila dibaca. Saya seorang mahasiswa semester 4. Waktu itu hari jumat (13/05/2011), seperti biasa saya kuliah sampai jam 14.30 sore kemudian saya dan teman-temanku pergi ke Pasar Kapasan untuk memesan kaos untuk acara kampus dilanjutkan ke Mall Delta untuk jalan-jalan. Sampai di kost sekitar pukul setengah 8 malam. Tiba-tiba salah satu teman kost saya menanyakan apakah di kampus saya hari senin ada cuti bersama?. Kemudia saya menjawab kalau saya tidak tahu karena sampai saya keluar dari kampus sekitar pukul setengah 4 sore, belum ada kabar tentang isu libur di hari senin. keesokan harinya, tepatnya Sabtu tanggal 14 Mei 2011 sekitar pukul 10.00 saya mendapatkan SMS jarkom (jaringan komunikasi) dari teman saya yang mengatakan bahwa hari senin cuti bersama tertanda Wadek 1. Mengetahui ada embel-embel Wadek 1, saya langsung menyatakan bahwa SMS itu resmi karena lebih dari 1 teman saya yang mengirimkan SMS serupa kepada saya. Karena saya masih ragu, akhirnya saya putuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman. Tetapi semua teman kost saya ternyata merencanakan pulang dikarenakan kampus ataupun kantor mereka bekerja juga meliburkan mereka di hari senin. 

Alhasil saya akhirnya pulang pada hari Minggu pagi sekitar pukul 5 pagi. Saya sengaja berangkat 1 jam lebih awal karena saya takut tidak kebagian tempat duduk di kereta nanti. Ternyata dugaan saya benar, kereta terlalu penuh penumpang hingga penumpang berdiri di sepanjang gerbong, bahkan di dalam toilet di setiap gerbong. Untung saja saya datang lebih awal sehingga saya mendapatkan tempat duduk. Sekitar pukul 10.30 pagi menjelang siang, saya sampai di stasiun Madiun. Saya dijemput ayah saya yang sudah menunggu di stasiun dari jam setengah 10, karena memang kereta Pasundan jurusan Surabaya - Kiara Condong Bandung biasanya sampai di stasiun Madiun sekiar pukul 09.00 (ironis). Sebenarnya hari ini saya tidak ingin dijemput ayah saya karena saya tahu ayah saya hari ini akan menjadi penerima tamu di acara pernikahan tetangga saya. Tapi ayah saya tetap bersikeras untuk menjemput saya karena jarak stasiun dengan rumah kami lumayan jauh. Dan kebetulan pada hari itu (Minggu/15/05/2011) selama dijemput ayah saya dengan mengendarai motor, saya tidak menemukan satupun angkutan umum yang lewat ataupun mangkal di kota Madiun (ironis). 

Tiba di rumah saya langsung makan siang dan membuka laptop saya dan sesekali mengerjakan laporan meskipun akhirnya tidak bisa karena koneksi internet di rumah saya amat sangat menyedihkan. Akhirnya saya memilih untuk tidur saja di kamar sambil mendengarkan musik, tapi lama-lama saya juga bosan karena beda suasana dengan di Surabaya. Akhirnya saya memilih untuk sms-an dengan teman saya di Surabaya untuk menanyakan mengenai masalh kaos yang nantinya akan saya pesankan. Awalnya cukup bagus tapi lama-kelamaan sms isinya membuat saya menjadi lelah dengan semua keterbatasan dan miss communication dengan teman-teman saya, dan akhirnya sms saya sudahi. Sekitar pukul 13.00 ibu saya pulang dari tempa hajatan tetangga saya yang menikah tadi, saya sangat senang karena dari tadi saya pulang saya belum bertemu dengan ibu saya. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan ibu saya di ruang TV, tiba-tiba tersengar bunyi SMS di HP saya. Waktu itu pukul 14.00 siang, dan ternyata SMS tersebut berbunyi : tlg jarkomkan ke tmn2..bsk msh ttp ad praktikum F*s**l*g* T*mb*h*n..brita dr bu *****. trimakasih,, 

Melihat SMS tersebut jantung saya serasa berhenti berdetak. Baru 3 jam saya berada di rumah dan saya harus segera kembali ke Surabaya untuk mengikiti praktikum. Lebih parahnya lagi saya harus segera membeli tiket kereta karena sekali lagi ini adalah hari libur dimana besok adalah cuti bersama yang diberitahukan secara mendadak. kemudian saya mengatakan isi SMS tersebt kepada ibu saya yang saat itu berada di samping saya. Ibu saya terlihat sama kagetnya dengan saya namun beliau masih terlihat tidak percaya. Akhirnya ibu saya meminta saya segera memesan tiket untuk kembali nanti petang. Akhirnya saya berangkat kembali ke stasiun dengan ayah saya. Selain itu saya juga mengatakan kepada ibu saya untuk tidak memberitahu nenek yang waktu itu sedang tidur siang, karena pasti nenek saya akan sangat kecewa. Setiba di sana saya langsung membeli tiket kereta bisnis untuk petang nanti dan untunglah tiket masih ada dan harganya pun kembali ke harga awal, yaitu Rp 40.000,- Setelah membeli tiket saya kembali pulang dan melanjutkan tidur saya yang tertunda tadi. Maklum selama di kereta saya tidak tidur karena keadaan sangat gerah dan panas apalagi dengan jumlah penumpang yang melebihi kapasitas (ironis). Setelah saya tidur, ternyata ayah dan ibu saya masih berada di acara hajatan tetangga saya. Saya merasa sangat bersalah, karena sudah merepotkan mereka berdua. Seharusnya mereke hari itu bisa membantu tetangga saya yang hajatan secara full karena memang sudah diminta tolong jauh hari sebelumnya. Saya takut kalau ini akan berimbas pada acara hajatan pernikahan kakak saya nanti yang diadakan bulan Juli nanti. 

Sekitar pukul setengah 5 sore saya bangun tidur sambil masih menangis menyesali semua kesalahan yang saya timbulkan hari ini kepada orang tua saya terutama ayah saya. Sekitar pukul 5 sore ayah saya sudah kembali dari acara hajatan dan memang ayah saya sangat on time dalam menepati janjinya. Dimana sebelum saya melanjutkan tidur tadi, ayah saya mengatakan akan mengantar saya ke stasiun (lagi) pada jam 17.00. Setelah siap dan sudah mengemasi barang-barang saya di tas, tiba-tiba nenek saya memanggil saya dan menanyakan kepada saya mau pergi ke mana. Awalnya saya berkata kalau saya hanya akan menata barang saya yang berserakan. Tapi memang sepintar-pintarnya kita menyimpan bangkai , pasti akan tercium juga bau bangkainya. Setelah ibu saya mengatakan hal yang sebenarnya, tiba-tiba saja nenek saya menangis seperti anak kecil. Benar-benar sangat berat untuk menatap wajah nenek saat itu. Saya tahu saya telah melukai hati nenek saya, hingga membuatnya menangis bahkan beliau masih menangis ketika saya sudah berada di atas motor dibonceng ayah saya. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, saya harus segera berangkat karena kereta yang saya naiki akan berangkat pukul 18.15. Di stasiun saya ditemani ayah saya dan diantar hingga duduk di dalam kereta. Saya "salim" kepada ayah saya dan kereta pun akhirnya berangkat. Hari ini memang hari sial buat saya. Baru kali ini saya temukan cuti bersama yang lebih merugikan rakyatnya daripada menyenangkan rakyatnya. Kalau saja pemberitahuan mengenai adanya cuti bersama ini bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, tentu tidak akan begini jadinya. Saya termasuk dalam orang yang kontra akan adanya cuti bersama ini. Buat apa diberikan cuti kalau toh tidak dilakukan secara serentak. Terlebih lagi pemberitahuannya sangat mendadak. Manajemen warung seperti ini seharusnya tidak dilakukan di tingkat pemerintahan. Karena hanya akan mengurangi jatah cuti PNS. Kalaupun toh mau meningkatkan sektor pariwisata, pasti ada cara lain untuk melakukannya. Kalau begini caranya pihak pariwisata pasti akan kelabakan karena sudah pasti belum sempat mengambil langkah-langkah stategis dalam mempersiapkan hari libur panjang seperti ini.

Mengenai pemberitahuan di kampus saya, saya masih bisa memaklumi walaupun baru diberitahukan hari sabtu paginya. Karena instansi pemerintah saja diberitahu jumat sorenya (13/05/2011), apalgi kampus saya yang notabene sudah lepas dari BHMN. Tetapi menanggapi mengenai adanya praktikum yang diberitahukan secara mendadak, yaitu sekitar pukul 14.00 di hari Minggu (15/05/2011), apalagi praktikum diadakan besoknya yaitu senin (16/05/2011), tentu hal ini akan membuat mahasiswanya shock. Belum lagi mahasiswa yang sudah terlanjur pulang ke kampung halamannya ataupun sudah berlibur ke luar kota seperti teman saya yang sudah berada di Bali sejak hari Minggu, sudah pasti dia tidak bisa mengikuti praktikum dikarenakan pemberitahuan yang mendadak seperti ini. Kalau seperti ini keputusan yang sudah diresmikan Wadek 1 bagaikan pepesan kosong saja, karena memang pada akhirnya jurusan saya tidak jadi libur pada hari seninnya. Selain itu, dalam praktikum bukan hanya mahasiswa saja yang dibutuhkan, tapi juga asdos dan laboran yang bertugas untuk membantu kelancaran praktikum. Selama praktikum tadi saya melihat hanya ada 3 asdos dari 4 atau 5 asdos yang seharusnya ada, begitu pula dengan laboran, hanya 1 laboran saja yang datang. Entah ini memang hanya beberapa asdos dan laboran saja yang datang, atau memang ada yang khusus pada praktikum kali ini. Karena dari jumlah dosen yang datang juga hanya 2 orang dari 4 dosen yang biasanya mengajar praktikum. Mengenai ini saya tidak mau berkomentar karena memang mungkin ada hal yang memang tidak saya ketahui karena kapasitas saya hanyalah sebagai seorang mahasiswa. Akan tetapi kejelasan dari suatu sistem harusnya dilakukan dengan menejemen yang baik dan terstruktur. Jangan seperti manajemen warung yang bisa dengan sesukanya membuka atau menutup warungnya ketika stock dagangannya sudah habis. 

NB : Ini hanya curahan hati dari seorang mahasiswa, jangan dijadikan suatu ajang untuk saling menjatuhkan atau menyalahkan. Karena ini adalah blog pribadi, dan tidak ada keinginan sedikitpun untuk menyinggung  apalagi merugikan pihak lain, karena saya sendirilah yang merasa dirugikan. Terima Kasih.

One Response so far.

  1. waaaaaaah sabar-sabar,,tak jauh beda dengan saya,,jam 5 pagi saya berangkat dan belajarpun terpaksa di atas bus,,,untunglah masih ngatasi untuk mengikuti pre-test........
    semangat yach,,,,,,,, ^_^

Leave a Reply

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .

Monday, May 16, 2011

Manajemen Cuti Bersama Bak Manajemen Warung?

image by : link
Menanggapi berita yang kini tengah menjadi headline di masyarakat yaitu tentang cuti bersama yang mendadak, saya memiliki cerita sendiri yang mungkin sedikit menyedihkan apabila dibaca. Saya seorang mahasiswa semester 4. Waktu itu hari jumat (13/05/2011), seperti biasa saya kuliah sampai jam 14.30 sore kemudian saya dan teman-temanku pergi ke Pasar Kapasan untuk memesan kaos untuk acara kampus dilanjutkan ke Mall Delta untuk jalan-jalan. Sampai di kost sekitar pukul setengah 8 malam. Tiba-tiba salah satu teman kost saya menanyakan apakah di kampus saya hari senin ada cuti bersama?. Kemudia saya menjawab kalau saya tidak tahu karena sampai saya keluar dari kampus sekitar pukul setengah 4 sore, belum ada kabar tentang isu libur di hari senin. keesokan harinya, tepatnya Sabtu tanggal 14 Mei 2011 sekitar pukul 10.00 saya mendapatkan SMS jarkom (jaringan komunikasi) dari teman saya yang mengatakan bahwa hari senin cuti bersama tertanda Wadek 1. Mengetahui ada embel-embel Wadek 1, saya langsung menyatakan bahwa SMS itu resmi karena lebih dari 1 teman saya yang mengirimkan SMS serupa kepada saya. Karena saya masih ragu, akhirnya saya putuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman. Tetapi semua teman kost saya ternyata merencanakan pulang dikarenakan kampus ataupun kantor mereka bekerja juga meliburkan mereka di hari senin. 

Alhasil saya akhirnya pulang pada hari Minggu pagi sekitar pukul 5 pagi. Saya sengaja berangkat 1 jam lebih awal karena saya takut tidak kebagian tempat duduk di kereta nanti. Ternyata dugaan saya benar, kereta terlalu penuh penumpang hingga penumpang berdiri di sepanjang gerbong, bahkan di dalam toilet di setiap gerbong. Untung saja saya datang lebih awal sehingga saya mendapatkan tempat duduk. Sekitar pukul 10.30 pagi menjelang siang, saya sampai di stasiun Madiun. Saya dijemput ayah saya yang sudah menunggu di stasiun dari jam setengah 10, karena memang kereta Pasundan jurusan Surabaya - Kiara Condong Bandung biasanya sampai di stasiun Madiun sekiar pukul 09.00 (ironis). Sebenarnya hari ini saya tidak ingin dijemput ayah saya karena saya tahu ayah saya hari ini akan menjadi penerima tamu di acara pernikahan tetangga saya. Tapi ayah saya tetap bersikeras untuk menjemput saya karena jarak stasiun dengan rumah kami lumayan jauh. Dan kebetulan pada hari itu (Minggu/15/05/2011) selama dijemput ayah saya dengan mengendarai motor, saya tidak menemukan satupun angkutan umum yang lewat ataupun mangkal di kota Madiun (ironis). 

Tiba di rumah saya langsung makan siang dan membuka laptop saya dan sesekali mengerjakan laporan meskipun akhirnya tidak bisa karena koneksi internet di rumah saya amat sangat menyedihkan. Akhirnya saya memilih untuk tidur saja di kamar sambil mendengarkan musik, tapi lama-lama saya juga bosan karena beda suasana dengan di Surabaya. Akhirnya saya memilih untuk sms-an dengan teman saya di Surabaya untuk menanyakan mengenai masalh kaos yang nantinya akan saya pesankan. Awalnya cukup bagus tapi lama-kelamaan sms isinya membuat saya menjadi lelah dengan semua keterbatasan dan miss communication dengan teman-teman saya, dan akhirnya sms saya sudahi. Sekitar pukul 13.00 ibu saya pulang dari tempa hajatan tetangga saya yang menikah tadi, saya sangat senang karena dari tadi saya pulang saya belum bertemu dengan ibu saya. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan ibu saya di ruang TV, tiba-tiba tersengar bunyi SMS di HP saya. Waktu itu pukul 14.00 siang, dan ternyata SMS tersebut berbunyi : tlg jarkomkan ke tmn2..bsk msh ttp ad praktikum F*s**l*g* T*mb*h*n..brita dr bu *****. trimakasih,, 

Melihat SMS tersebut jantung saya serasa berhenti berdetak. Baru 3 jam saya berada di rumah dan saya harus segera kembali ke Surabaya untuk mengikiti praktikum. Lebih parahnya lagi saya harus segera membeli tiket kereta karena sekali lagi ini adalah hari libur dimana besok adalah cuti bersama yang diberitahukan secara mendadak. kemudian saya mengatakan isi SMS tersebt kepada ibu saya yang saat itu berada di samping saya. Ibu saya terlihat sama kagetnya dengan saya namun beliau masih terlihat tidak percaya. Akhirnya ibu saya meminta saya segera memesan tiket untuk kembali nanti petang. Akhirnya saya berangkat kembali ke stasiun dengan ayah saya. Selain itu saya juga mengatakan kepada ibu saya untuk tidak memberitahu nenek yang waktu itu sedang tidur siang, karena pasti nenek saya akan sangat kecewa. Setiba di sana saya langsung membeli tiket kereta bisnis untuk petang nanti dan untunglah tiket masih ada dan harganya pun kembali ke harga awal, yaitu Rp 40.000,- Setelah membeli tiket saya kembali pulang dan melanjutkan tidur saya yang tertunda tadi. Maklum selama di kereta saya tidak tidur karena keadaan sangat gerah dan panas apalagi dengan jumlah penumpang yang melebihi kapasitas (ironis). Setelah saya tidur, ternyata ayah dan ibu saya masih berada di acara hajatan tetangga saya. Saya merasa sangat bersalah, karena sudah merepotkan mereka berdua. Seharusnya mereke hari itu bisa membantu tetangga saya yang hajatan secara full karena memang sudah diminta tolong jauh hari sebelumnya. Saya takut kalau ini akan berimbas pada acara hajatan pernikahan kakak saya nanti yang diadakan bulan Juli nanti. 

Sekitar pukul setengah 5 sore saya bangun tidur sambil masih menangis menyesali semua kesalahan yang saya timbulkan hari ini kepada orang tua saya terutama ayah saya. Sekitar pukul 5 sore ayah saya sudah kembali dari acara hajatan dan memang ayah saya sangat on time dalam menepati janjinya. Dimana sebelum saya melanjutkan tidur tadi, ayah saya mengatakan akan mengantar saya ke stasiun (lagi) pada jam 17.00. Setelah siap dan sudah mengemasi barang-barang saya di tas, tiba-tiba nenek saya memanggil saya dan menanyakan kepada saya mau pergi ke mana. Awalnya saya berkata kalau saya hanya akan menata barang saya yang berserakan. Tapi memang sepintar-pintarnya kita menyimpan bangkai , pasti akan tercium juga bau bangkainya. Setelah ibu saya mengatakan hal yang sebenarnya, tiba-tiba saja nenek saya menangis seperti anak kecil. Benar-benar sangat berat untuk menatap wajah nenek saat itu. Saya tahu saya telah melukai hati nenek saya, hingga membuatnya menangis bahkan beliau masih menangis ketika saya sudah berada di atas motor dibonceng ayah saya. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, saya harus segera berangkat karena kereta yang saya naiki akan berangkat pukul 18.15. Di stasiun saya ditemani ayah saya dan diantar hingga duduk di dalam kereta. Saya "salim" kepada ayah saya dan kereta pun akhirnya berangkat. Hari ini memang hari sial buat saya. Baru kali ini saya temukan cuti bersama yang lebih merugikan rakyatnya daripada menyenangkan rakyatnya. Kalau saja pemberitahuan mengenai adanya cuti bersama ini bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, tentu tidak akan begini jadinya. Saya termasuk dalam orang yang kontra akan adanya cuti bersama ini. Buat apa diberikan cuti kalau toh tidak dilakukan secara serentak. Terlebih lagi pemberitahuannya sangat mendadak. Manajemen warung seperti ini seharusnya tidak dilakukan di tingkat pemerintahan. Karena hanya akan mengurangi jatah cuti PNS. Kalaupun toh mau meningkatkan sektor pariwisata, pasti ada cara lain untuk melakukannya. Kalau begini caranya pihak pariwisata pasti akan kelabakan karena sudah pasti belum sempat mengambil langkah-langkah stategis dalam mempersiapkan hari libur panjang seperti ini.

Mengenai pemberitahuan di kampus saya, saya masih bisa memaklumi walaupun baru diberitahukan hari sabtu paginya. Karena instansi pemerintah saja diberitahu jumat sorenya (13/05/2011), apalgi kampus saya yang notabene sudah lepas dari BHMN. Tetapi menanggapi mengenai adanya praktikum yang diberitahukan secara mendadak, yaitu sekitar pukul 14.00 di hari Minggu (15/05/2011), apalagi praktikum diadakan besoknya yaitu senin (16/05/2011), tentu hal ini akan membuat mahasiswanya shock. Belum lagi mahasiswa yang sudah terlanjur pulang ke kampung halamannya ataupun sudah berlibur ke luar kota seperti teman saya yang sudah berada di Bali sejak hari Minggu, sudah pasti dia tidak bisa mengikuti praktikum dikarenakan pemberitahuan yang mendadak seperti ini. Kalau seperti ini keputusan yang sudah diresmikan Wadek 1 bagaikan pepesan kosong saja, karena memang pada akhirnya jurusan saya tidak jadi libur pada hari seninnya. Selain itu, dalam praktikum bukan hanya mahasiswa saja yang dibutuhkan, tapi juga asdos dan laboran yang bertugas untuk membantu kelancaran praktikum. Selama praktikum tadi saya melihat hanya ada 3 asdos dari 4 atau 5 asdos yang seharusnya ada, begitu pula dengan laboran, hanya 1 laboran saja yang datang. Entah ini memang hanya beberapa asdos dan laboran saja yang datang, atau memang ada yang khusus pada praktikum kali ini. Karena dari jumlah dosen yang datang juga hanya 2 orang dari 4 dosen yang biasanya mengajar praktikum. Mengenai ini saya tidak mau berkomentar karena memang mungkin ada hal yang memang tidak saya ketahui karena kapasitas saya hanyalah sebagai seorang mahasiswa. Akan tetapi kejelasan dari suatu sistem harusnya dilakukan dengan menejemen yang baik dan terstruktur. Jangan seperti manajemen warung yang bisa dengan sesukanya membuka atau menutup warungnya ketika stock dagangannya sudah habis. 

NB : Ini hanya curahan hati dari seorang mahasiswa, jangan dijadikan suatu ajang untuk saling menjatuhkan atau menyalahkan. Karena ini adalah blog pribadi, dan tidak ada keinginan sedikitpun untuk menyinggung  apalagi merugikan pihak lain, karena saya sendirilah yang merasa dirugikan. Terima Kasih.

1 comment:

  1. waaaaaaah sabar-sabar,,tak jauh beda dengan saya,,jam 5 pagi saya berangkat dan belajarpun terpaksa di atas bus,,,untunglah masih ngatasi untuk mengikuti pre-test........
    semangat yach,,,,,,,, ^_^

    ReplyDelete

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .