Ratih Kuspriyadani

Cewek yang mencoba untuk mengejar mimpi-mimpinya...

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang apa adanya

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang suka dengan dunianya


LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
POTENSIAL OSMOTIK

      Diusun oleh :
Kelompok D1

1.            Nur Afidatul Maulidiyah       (080914016)
2.            Ratih Kuspriyadani                (080914023)
3.            Lyna Febrianti                        (080914029)
4.            Evi KUstiningtyas                  (080914031)
5.            Virna Dwi Risnawanti            (080914034)
6.            Hendra Susilo             (080914053)

Dosen Pembimbing :
Dr. Y. Sri Wulan Manuhara, M.Si


DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2011


A.     JUDUL
Potensial Osmotik

B.     TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah mengukur potensial umbi kentang agar mampu melakukan pengukuran potensial air terhadap sel hidup, serta mampu menjelaskan konsep potensial osmotik pada sel hidup.

C.     ALAT DAN BAHAN
1.      Alat terdiri dari :
-         alat pengebor gabus
-         pisau atau silet
-         kertas aluminium foil
-         botol bermulut besar
-         gelas ukur 50 ml atau 100 ml
2. Bahan terdiri dari :
-         umbi kentang
-         larutan sukrosa (0,0 M ; 0,4 M ; 0,8 M ; 1,2 M ; 1,6 M )

  1. DASAR TEORI
Aagar dimengerti perihal tekanan yang menyebabkan kenaikan permukaan atau volume, maka perlu ditambahkan pemikiran terlebih dahulu mengenai difusi. Dalam hal ini penting dikemukakan tentang konsep potensial air yang menyatakan status energi air dalam suatu sistem. Setiap komponen suatu sistem biologi memiliki energi bebas atau aktivitas molekul yang mampu melaksanakan kerja. Potensi kimia suatu zat adalah energi bebas dari setiap ‘mol’ zat itu (satu mol adalah banyaknya zat dalam gram yang dalam bilangan sama dengan berat molekul), jadi ukuran energi yang menyebabkan zat itu beraksi atau bergerak.
Zat – zat selalu bergerak sepanjang gradasi energi bebasnya, kehilangan energi setiap terjadi gerakan, dan keseimbangan tercapai jika gerakan lebih lanjut tidak mengakibatkan kehilangan energi besar. Karena potensi kimia suatu zat meningkat dengan naiknya konsentrasi partikel-partikel, maka difusi dapat ditafsirkan dalam bentuk perbedaan potensi kimia antara dua daerah, bukan perbedaan konsentrasinya. Berdasarkan hal ini, difusi adalah gerakan bersih (netto) partikel-partikel zat dari daerah yang potensi kimianya lebih tinggi ke daerah yang potensi kimianya lebih rendah. Potensi kimia air pada sistem ini disebut potensi air sistem, dan perbedaan potensi air merupakan “tenaga pendorong” yang menyebabkan gerakan air. Lambang untuk menuliskan potensi air ialah huruf yunani psi (Ψ), dan karena dapat diukur baik dalam satuan tekanan maupun satuan energi, maka secara tradisional dinyatakan dalam atmosfer (atm), walaupun satuan bar (1atm = 1,01 bar) kini dijadikan satuan baku.
Perkembangan tekanan osmosis itu bukanlah milik larutan semata, tetapi milik seluruh sistem yang terdiri dari larutan, selaput (membran) dan bahkan terlarut. Sifat larutan yang diukur dengan tekanan osmosis itu disebut potensial osmosis (PO) dan alat untuk mengukur besarnya tekanan osmosis disebut osmometer. Istilah ini menjuruskan pendapat bahwa larutan hanya secara potensial mampu mengeluarkan tekanan jka larutan diletakkan dalam sebuah osmometer. Potensi osmosis, yang dalam bilangan sama tetapi berlawanan tandanya dengan tekanan osmosis, menyatakan kecenderunganair murni memasuki suatu larutan melintasi selaput semi permeabel, jadi pengukuran selisih potensi air (Ψ) suatu larutan dari nilai Ψ air murni pada suhu dan tekanan atmosfer yang sama.

E.     PROSEDUR KERJA
a.       Memilih umbi kentang yang besar dan membuat silinder umbi dengan menggunakan alat pengebor gabus,
b.      Memotong silinder umbi sama panjang dengan ukuran 3 cm,
c.       Menyiapkan botol-botol yang sudah diisi 5m ml larutan sukrosa yang konsentrasinya telah ditentukan. Untuk tiap botol diisi satu konsentrasi,
d.      Memasukkan potongan umbi tersebut ke dalam botol, masing-masing diisi 4 potongan umbi,
e.       Pekerjaan dilakukan dengan cepat untuk memperkecil terjadinya penguapan air dari permukaan silinder,
f.        Menutup rapat botol tersebut selama percobaan berlangsung dengan menggunakan kertas aluminium foil,
g.       Membiarkan silinder umbi dengan larutan selama 1 jam untuk memberi kesempatan pada umbi melakukan kesetimbangan dengan larutan sukrosa,
h.       Setelah 1 jam, mengambil silinder umbi dari masing-masing botol dan mengukur kembali panjangnya,
i.         Menghitung harga rata-rata panjang silinder umbi dari tiap konsentrasi sukrosa yang digunakan
j.        Membuat grak dari data yang telah didapat dengan molalitas larutan sebagai sumbu X dan rata-rata panjang silinder sebagai sumbu Y, lalu membuat garis sejajar sumbu x pada jarak 3 cm,
k.      Menentukannya dengan menggunakan grafik, pada konsentrasi (molal) tertentu silinder umbi tidak lagi mengalami perubahan panjang. Konsentrasi tersebut merupakan potensial air umbi tersebut.

F. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Data rata-rata panjang umbi kentang setelah proses osmosis.
No botol
Molaritas larutan
Panjang awal
Panjang setelah direndam dalam sukrosa
Rata-rata
Kelompok D1, D2, D2 (2)
Kelompok D1
Kelompok D2
Kelompok D2 (2)
1
0
3
3.05
3.05
3.07
3.05
2
0.4
3
2.82
3
2.77
2.86
3
0.8
3
2.75
2.8
2.7
2.75
4
1.2
3
2.67
2.85
2.8
2.78
5
1.6
3
2.77
2.8
2.65
2.72


G. PEMBAHASAN
      Pada praktikum ini menggunakan umbi kentang yang telah dilubangi dengan menggunakan alat pengebor gabus. Umbi yang telah dimabil masing-masing dipotong dengan panjang 3 cm. Umbi kentang kemudian dimasukkan ke dalam botol yang telah diisi dengan larutan sukrosa dengan konsentrasi molaritas yang berbeda-beda. Kentang yang telah direndam kemudian didiamkan di dalam botol selama 1 jam dengan ditutup akumunium foil, supaya tidak terjadi penguapan yang terlalu besar. Setelah 1 jam, umbi kentang diukur panjangnya kembali. Dari pengamatan ini, diketahui kentang mengalami perubahan panjang, ada yang bertambah panjang, namun juga ada yang mengalami pengurangan panjang. Mula-mula dari umbi kentang yang direndam dalam larutan sukrosa 0,0 M. Di sini kentang tidak begitu mengalami perubahan panjang, hanya beberapa umbi kentang saja yang bertambah panjangnya. Dari hasil keseluruhan dari 3 kelompok kelas diperoleh rata-rata panjang setelah proses osmosis adalah sebesar 3.058 cm. Hal ini berarti ada sebagian molekul air yang berpindah ke dalam potongan kentang selama kentang direndam di dalam air. Dalam hal ini, konsentrasi air dalam pelarut (air murni) adalah 100%, sedangkan konsentrasi air dalam potongan kentang kurang dari 100%. Akibat perbedaan konsentrasi tersebut, molekul air berpindah dari zat pelarut (air) ke dalam potongan kentang melalui suatu membran. Perpindahan molekul zat dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi disebut osmosis.Selanjutnya untuk konsentrasi larutan sebesar 0,4;0,8;1,2; dan 1,6 juga mengalami perubahan panjang. Akan tetapi umbi kentang berubah mengalami pengurangan panjang, atau menyusut. Dari analisa data diperoleh masing-masing nilai rata-rata untuk konsentrasi larutan adalah sebesar 2.86, 2.75, 2.78, dan 2.72 untuk konsentrasi larutan 0,4;0,8;1,2; dan 1,6. Perubahan panjang ini dikarenakan air bersifat hipotonis maupun hipertonis terhadap sel kentang. kibat perbedaan konsentrasi tersebut molekul air dari potongan kentang berpindah ke larutan gula. Semakin besar konsentrasi larutan sukrosanya, maka kekurangan berat yang dialami oleh potongan kentang itu akan semakin besar dan cepat karena perbedaan konsentrasi zat semakin besar. Hal tersebut mengakibatkan air semakin cepat berpindah dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Sehingga panjang silinder umbi kentang semakin berkurang. Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul air terikat (tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sedangkan pada larutan hipotonik, memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Oleh sebab itu, dalam osmosis aliran molekul air adalah dari larutan hipotonik ke hipertonik. Dari hasil rata-rata panjang umbi kentang ini dapat diketahui nilai potensila osmotik dari rumus : PO = 22,4mT                                                                                                              273                                     Molaritas 0,0    : PO = 22,4 (0,0) (300)
                                                  273
                                      = 0
            Molaritas 0,4    : PO = 22,4 (0,4) (300)
                                                         273
                                            = 9,85
            Molaritas 0,8    : PO = 22,4 (0,8) (300)
                                                         273
                                             = 19,69
            Molaritas 1,2    : PO = 22,4 (1,2) (300)
                                                         273
                                            = 29,53
            Molaritas 1,6    : PO = 22,4 (1,6) (300)
                                                        273
                                            = 39,38.
Diskusi :
a.       Mengapa penguapan terjadi pada sel-sel pada sel-sel umbi batang yang telah diiris?
Sel-sel pada umbi batang kentang ketika diiris dan tidak dimasukkan ke dalam air dalam janga waktu yang lama akan mengalami plasmolisis yaitu protoplas sel tumbuhan akan kehilangan air karena perbedaan tekanan dengan lingkungannya  sehingga akan mengakibatkan keluarnya air pada sel tumbuhan.
b.      Apakah fungsi dari larutan sukrosa dengan berbagai konsentrasi pada percobaan ini?
Larutan sukrosa berfungsi sebagai bahan penguji untuk mengetahui besarnya potensial air dan dapat dilihat dari perbedaan panjang silinder.
c.       Bagaimanakah hubungan molaritas larutan sukrosa dengan perubahan pada silinder umbi kentang?
Hubungan molaritas larutan sukrosa dengan perubahan pada silinder umbi kentang berbanding terbalik. Semakin pekat konsentrasi larutan sukrosa, maka semakin kecil pertambahan panjang dari silinder umbi kentang.

H. KESIMPULAN
1.   Terjadi perubahan panjang pada umbi kentang setelah proses osmosis, dimana semakin besar konsentrasi larutan sukrosanya, maka kekurangan berat yang dialami oleh potongan kentang itu akan semakin besar dan cepat karena perbedaan konsentrasi zat semakin besar.
2.  Nilai potensial osmotik masing-masing larutan dengan molaritasnya adalah:
·        Molaritas 0,0 = 0;
·        Molaritas 0,4 = 9,85;
·        Molaritas 0,8 = 19,69;
·        Molaritas 1,2 = 29,53;
·        Molaritas 1,8 = 39,38.
     Dari hasil ini bisa disimpulkan bahwa semakin besar nilai molaritas larutan sukrosa akan semakin besar pula nilai potensial osmotiknya.
           
I. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Difusi dan Osmosis. http://rona-siteworld.blogspot.com/2009          /05/difusi-dan-osmosis.html diakses pada 22 Maret 2011 15:22.
Anonim, 2009. Praktikum Osmosis. http://eug3n14.wordpress.com/2009/08/          03/praktikum-osmosis/ diakses pada 22 Maret 2011 20:38.
Dwijoseputro. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia, Jakarta.
Salisbury, Frank B dan Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Penerbit        ITB. Bandung.


Leave a Reply

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .

Wednesday, June 15, 2011

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN POTENSIAL OSMOTIK


LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
POTENSIAL OSMOTIK

      Diusun oleh :
Kelompok D1

1.            Nur Afidatul Maulidiyah       (080914016)
2.            Ratih Kuspriyadani                (080914023)
3.            Lyna Febrianti                        (080914029)
4.            Evi KUstiningtyas                  (080914031)
5.            Virna Dwi Risnawanti            (080914034)
6.            Hendra Susilo             (080914053)

Dosen Pembimbing :
Dr. Y. Sri Wulan Manuhara, M.Si


DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2011


A.     JUDUL
Potensial Osmotik

B.     TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah mengukur potensial umbi kentang agar mampu melakukan pengukuran potensial air terhadap sel hidup, serta mampu menjelaskan konsep potensial osmotik pada sel hidup.

C.     ALAT DAN BAHAN
1.      Alat terdiri dari :
-         alat pengebor gabus
-         pisau atau silet
-         kertas aluminium foil
-         botol bermulut besar
-         gelas ukur 50 ml atau 100 ml
2. Bahan terdiri dari :
-         umbi kentang
-         larutan sukrosa (0,0 M ; 0,4 M ; 0,8 M ; 1,2 M ; 1,6 M )

  1. DASAR TEORI
Aagar dimengerti perihal tekanan yang menyebabkan kenaikan permukaan atau volume, maka perlu ditambahkan pemikiran terlebih dahulu mengenai difusi. Dalam hal ini penting dikemukakan tentang konsep potensial air yang menyatakan status energi air dalam suatu sistem. Setiap komponen suatu sistem biologi memiliki energi bebas atau aktivitas molekul yang mampu melaksanakan kerja. Potensi kimia suatu zat adalah energi bebas dari setiap ‘mol’ zat itu (satu mol adalah banyaknya zat dalam gram yang dalam bilangan sama dengan berat molekul), jadi ukuran energi yang menyebabkan zat itu beraksi atau bergerak.
Zat – zat selalu bergerak sepanjang gradasi energi bebasnya, kehilangan energi setiap terjadi gerakan, dan keseimbangan tercapai jika gerakan lebih lanjut tidak mengakibatkan kehilangan energi besar. Karena potensi kimia suatu zat meningkat dengan naiknya konsentrasi partikel-partikel, maka difusi dapat ditafsirkan dalam bentuk perbedaan potensi kimia antara dua daerah, bukan perbedaan konsentrasinya. Berdasarkan hal ini, difusi adalah gerakan bersih (netto) partikel-partikel zat dari daerah yang potensi kimianya lebih tinggi ke daerah yang potensi kimianya lebih rendah. Potensi kimia air pada sistem ini disebut potensi air sistem, dan perbedaan potensi air merupakan “tenaga pendorong” yang menyebabkan gerakan air. Lambang untuk menuliskan potensi air ialah huruf yunani psi (Ψ), dan karena dapat diukur baik dalam satuan tekanan maupun satuan energi, maka secara tradisional dinyatakan dalam atmosfer (atm), walaupun satuan bar (1atm = 1,01 bar) kini dijadikan satuan baku.
Perkembangan tekanan osmosis itu bukanlah milik larutan semata, tetapi milik seluruh sistem yang terdiri dari larutan, selaput (membran) dan bahkan terlarut. Sifat larutan yang diukur dengan tekanan osmosis itu disebut potensial osmosis (PO) dan alat untuk mengukur besarnya tekanan osmosis disebut osmometer. Istilah ini menjuruskan pendapat bahwa larutan hanya secara potensial mampu mengeluarkan tekanan jka larutan diletakkan dalam sebuah osmometer. Potensi osmosis, yang dalam bilangan sama tetapi berlawanan tandanya dengan tekanan osmosis, menyatakan kecenderunganair murni memasuki suatu larutan melintasi selaput semi permeabel, jadi pengukuran selisih potensi air (Ψ) suatu larutan dari nilai Ψ air murni pada suhu dan tekanan atmosfer yang sama.

E.     PROSEDUR KERJA
a.       Memilih umbi kentang yang besar dan membuat silinder umbi dengan menggunakan alat pengebor gabus,
b.      Memotong silinder umbi sama panjang dengan ukuran 3 cm,
c.       Menyiapkan botol-botol yang sudah diisi 5m ml larutan sukrosa yang konsentrasinya telah ditentukan. Untuk tiap botol diisi satu konsentrasi,
d.      Memasukkan potongan umbi tersebut ke dalam botol, masing-masing diisi 4 potongan umbi,
e.       Pekerjaan dilakukan dengan cepat untuk memperkecil terjadinya penguapan air dari permukaan silinder,
f.        Menutup rapat botol tersebut selama percobaan berlangsung dengan menggunakan kertas aluminium foil,
g.       Membiarkan silinder umbi dengan larutan selama 1 jam untuk memberi kesempatan pada umbi melakukan kesetimbangan dengan larutan sukrosa,
h.       Setelah 1 jam, mengambil silinder umbi dari masing-masing botol dan mengukur kembali panjangnya,
i.         Menghitung harga rata-rata panjang silinder umbi dari tiap konsentrasi sukrosa yang digunakan
j.        Membuat grak dari data yang telah didapat dengan molalitas larutan sebagai sumbu X dan rata-rata panjang silinder sebagai sumbu Y, lalu membuat garis sejajar sumbu x pada jarak 3 cm,
k.      Menentukannya dengan menggunakan grafik, pada konsentrasi (molal) tertentu silinder umbi tidak lagi mengalami perubahan panjang. Konsentrasi tersebut merupakan potensial air umbi tersebut.

F. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. Data rata-rata panjang umbi kentang setelah proses osmosis.
No botol
Molaritas larutan
Panjang awal
Panjang setelah direndam dalam sukrosa
Rata-rata
Kelompok D1, D2, D2 (2)
Kelompok D1
Kelompok D2
Kelompok D2 (2)
1
0
3
3.05
3.05
3.07
3.05
2
0.4
3
2.82
3
2.77
2.86
3
0.8
3
2.75
2.8
2.7
2.75
4
1.2
3
2.67
2.85
2.8
2.78
5
1.6
3
2.77
2.8
2.65
2.72


G. PEMBAHASAN
      Pada praktikum ini menggunakan umbi kentang yang telah dilubangi dengan menggunakan alat pengebor gabus. Umbi yang telah dimabil masing-masing dipotong dengan panjang 3 cm. Umbi kentang kemudian dimasukkan ke dalam botol yang telah diisi dengan larutan sukrosa dengan konsentrasi molaritas yang berbeda-beda. Kentang yang telah direndam kemudian didiamkan di dalam botol selama 1 jam dengan ditutup akumunium foil, supaya tidak terjadi penguapan yang terlalu besar. Setelah 1 jam, umbi kentang diukur panjangnya kembali. Dari pengamatan ini, diketahui kentang mengalami perubahan panjang, ada yang bertambah panjang, namun juga ada yang mengalami pengurangan panjang. Mula-mula dari umbi kentang yang direndam dalam larutan sukrosa 0,0 M. Di sini kentang tidak begitu mengalami perubahan panjang, hanya beberapa umbi kentang saja yang bertambah panjangnya. Dari hasil keseluruhan dari 3 kelompok kelas diperoleh rata-rata panjang setelah proses osmosis adalah sebesar 3.058 cm. Hal ini berarti ada sebagian molekul air yang berpindah ke dalam potongan kentang selama kentang direndam di dalam air. Dalam hal ini, konsentrasi air dalam pelarut (air murni) adalah 100%, sedangkan konsentrasi air dalam potongan kentang kurang dari 100%. Akibat perbedaan konsentrasi tersebut, molekul air berpindah dari zat pelarut (air) ke dalam potongan kentang melalui suatu membran. Perpindahan molekul zat dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi disebut osmosis.Selanjutnya untuk konsentrasi larutan sebesar 0,4;0,8;1,2; dan 1,6 juga mengalami perubahan panjang. Akan tetapi umbi kentang berubah mengalami pengurangan panjang, atau menyusut. Dari analisa data diperoleh masing-masing nilai rata-rata untuk konsentrasi larutan adalah sebesar 2.86, 2.75, 2.78, dan 2.72 untuk konsentrasi larutan 0,4;0,8;1,2; dan 1,6. Perubahan panjang ini dikarenakan air bersifat hipotonis maupun hipertonis terhadap sel kentang. kibat perbedaan konsentrasi tersebut molekul air dari potongan kentang berpindah ke larutan gula. Semakin besar konsentrasi larutan sukrosanya, maka kekurangan berat yang dialami oleh potongan kentang itu akan semakin besar dan cepat karena perbedaan konsentrasi zat semakin besar. Hal tersebut mengakibatkan air semakin cepat berpindah dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Sehingga panjang silinder umbi kentang semakin berkurang. Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul air terikat (tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sedangkan pada larutan hipotonik, memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Oleh sebab itu, dalam osmosis aliran molekul air adalah dari larutan hipotonik ke hipertonik. Dari hasil rata-rata panjang umbi kentang ini dapat diketahui nilai potensila osmotik dari rumus : PO = 22,4mT                                                                                                              273                                     Molaritas 0,0    : PO = 22,4 (0,0) (300)
                                                  273
                                      = 0
            Molaritas 0,4    : PO = 22,4 (0,4) (300)
                                                         273
                                            = 9,85
            Molaritas 0,8    : PO = 22,4 (0,8) (300)
                                                         273
                                             = 19,69
            Molaritas 1,2    : PO = 22,4 (1,2) (300)
                                                         273
                                            = 29,53
            Molaritas 1,6    : PO = 22,4 (1,6) (300)
                                                        273
                                            = 39,38.
Diskusi :
a.       Mengapa penguapan terjadi pada sel-sel pada sel-sel umbi batang yang telah diiris?
Sel-sel pada umbi batang kentang ketika diiris dan tidak dimasukkan ke dalam air dalam janga waktu yang lama akan mengalami plasmolisis yaitu protoplas sel tumbuhan akan kehilangan air karena perbedaan tekanan dengan lingkungannya  sehingga akan mengakibatkan keluarnya air pada sel tumbuhan.
b.      Apakah fungsi dari larutan sukrosa dengan berbagai konsentrasi pada percobaan ini?
Larutan sukrosa berfungsi sebagai bahan penguji untuk mengetahui besarnya potensial air dan dapat dilihat dari perbedaan panjang silinder.
c.       Bagaimanakah hubungan molaritas larutan sukrosa dengan perubahan pada silinder umbi kentang?
Hubungan molaritas larutan sukrosa dengan perubahan pada silinder umbi kentang berbanding terbalik. Semakin pekat konsentrasi larutan sukrosa, maka semakin kecil pertambahan panjang dari silinder umbi kentang.

H. KESIMPULAN
1.   Terjadi perubahan panjang pada umbi kentang setelah proses osmosis, dimana semakin besar konsentrasi larutan sukrosanya, maka kekurangan berat yang dialami oleh potongan kentang itu akan semakin besar dan cepat karena perbedaan konsentrasi zat semakin besar.
2.  Nilai potensial osmotik masing-masing larutan dengan molaritasnya adalah:
·        Molaritas 0,0 = 0;
·        Molaritas 0,4 = 9,85;
·        Molaritas 0,8 = 19,69;
·        Molaritas 1,2 = 29,53;
·        Molaritas 1,8 = 39,38.
     Dari hasil ini bisa disimpulkan bahwa semakin besar nilai molaritas larutan sukrosa akan semakin besar pula nilai potensial osmotiknya.
           
I. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Difusi dan Osmosis. http://rona-siteworld.blogspot.com/2009          /05/difusi-dan-osmosis.html diakses pada 22 Maret 2011 15:22.
Anonim, 2009. Praktikum Osmosis. http://eug3n14.wordpress.com/2009/08/          03/praktikum-osmosis/ diakses pada 22 Maret 2011 20:38.
Dwijoseputro. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia, Jakarta.
Salisbury, Frank B dan Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Penerbit        ITB. Bandung.


No comments:

Post a Comment

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .