Ratih Kuspriyadani

Cewek yang mencoba untuk mengejar mimpi-mimpinya...

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang apa adanya

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang suka dengan dunianya


LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
PENETAPAN WAKTU KOAGULASI DARAH

WAKTU  PRAKTIKUM       :  Rabu, 23 November 2011
ASISTENSI                            :  Sugiharto, S.Si., M.Si


Kelompok D1

1.   Nur Afidatul Maulidiyah               (080914016)
2.   Ratih Kuspriyadani                        (080914023)
3.   Evi Kustiningtyas                           (080914031)
4.   Virna Dwi Risnawanti                    (080914034)
5.   Kartika Primasari                            (080914110)

DEPARTEMEN BIOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2011

ACARA PRAKTIKUM : VIII
PENETAPAN WAKTU KOAGULASI DARAH
I.       Tujuan
Praktikan dapat mempelajari dan memahami waktu koagulasi darah serta dapat membuktikan adanya benang fibrin yang berperan saat koagulasi darah.

II.    Dasar teori
Koagulasi darah adalah transformasi darah dari sifat solution menjadi bentuk gel. Bentukan suatu bekuan di sumbat trombosit akan memperkuat dan menunjang sumbatan tersebut dapat menutupi lubang di pembuluh. Koagulasi merupakan mekanisme homeostatik yang difungsikan dalam proses koagulasi darah. Reaksi dasar koagulasi darah adalah perubahan protein plasma yang larut (fibrinogen) dari fibrin yang bersifat tidak larut. Proses tersebut memerlukan pengeluaran 2 pasang peptide 4c dari setiap molekul fibrinogen. Bagian yang tersisa (fibrin monomer) kemudian akan berpolimerasi rerga-, fibrin monomer lainnya membentuk fibrin.

Menurut Campbell (2003), proses penggumpalan darah dimulai ketika endothelium pembuluh MisaK akibat adanya luka dan jaringan ikat pada dinding terpapar ke darah. Trombosit menempel ke wa'. Kolagen dalam jaringan ikat tersebut dan mengeluarkan fibrinogen yang membuat trombosit riaur-a berdekatan dan menjadi lengket, Trombosit selanjutnya membentuk sumbat yang memberikan reriindungan darurat sehingga tidak terjadi kehilangan darah. Penutupan ini diperkuat oleh gumpalan.

Trombin adalah suatu enzim yang dapat mengubah fibrinogen menjadi benang fibrin (yang dperiukan untuk terjadinya proses koagulasi darah), Selain itu, trombin juga berfungsi untuk : mengaktifkan factor Xlil (fibrin stabilizing factor, untuk menstabilkan jaringan fibrin yang sudah terbentuk); meningkatkan agregasi trombosit; sebagai umpan balik positif pada peristiwa pembentukan trombin selanjutnya. Berikut ini adalah faktor-faktor koagulasi darah
Faktor I. Fibrinogen
Faktor II. Prothrombin
Faktor III. Thromboplastin
Faktor IV. Calcium
Faktor V. Proaccelerin labile factor ( accelerator globulin)
Faktor VI.
Faktor VII. Proconvertin
Faktor VIII. Antihemofilic factor A (antihemofili globulin)
Faktor IX. Plasma thromboplastin component (PTC – antihemofili B / Chrismass Factor)
Faktor X. Stuart proyer factor
Faktor XI. Plasma thromboplastin anteccedent (PTA – antihemofili C)
Faktor XII. Hageman Factor (glass factor)
Faktor XIII. Fibrin stablizing factor

Anti Koagulasi pada Pemeriksaan Hematologi
Pada pemeriksaan hematologi, dibutuhkan anti koagulan untuk mancegah terjadinya koagulasi darah. Tidak semua anti koagulan dapat dipakai, karena ada yang dapat mempengaruhi morfologi eritrosit dan leukosit. Beberapa macam anti koagulan yang sering dipergunakan adalah :
1.      EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid)
Antikoagulan dengan prinsip sebagai chelating agent, yang dipergunakan adalah garam Na dan K untuk mengubah ion Ca dalam darah menjadi bentuk yang bukan ion. EDTA tidak berpengaruh terhadap besar dan bentuk eritrosit ataupun leukosit, dapat mencegah penggumpalan trombosit, Pemakaian 1 mg serbuk kering dapat mencegah koagulasi 1 ml darah. Dapat dipergunakan untuk menentukan : Kadar Hb, PCV, LED, Penentuan golongan darah, Penghitungan sel darah, dan Pembuatan hapusan sel darah.
2.      Heparin
Merupakan antikoagulan normal dalam tubuh, beke6a sebagai anti trombin dan anti tromboplastin. Jarang dipergunakan untuk pemeriksaan hematologis. Pada pemerikaan kurang dari 2 jam, tidak mempengaruhi bentuk eritrosit dan leukosit tetapi tidak baik untuk pemeriksaan hapusan darah. Diperiukan sebanyak 0,1-0,2 mg setiap 1ml darah. Dapat dipergunakan untuk menentukan: PCV dan Penghitungan sel darah.
3.      Kalium Oksalat
Dapat membentuk ikatan dengan Ca darah, membentuk Ca-0ksalat yang tidak larut. Dibutuhkan 2 mg untuk setiap I ml darah. Dapat menyebabkan penyusutan volume darah sehingga tidak baik untuk pemeriksaan volume sel mengguriakan hematokrit.
4.      Natrium Oksalat
Natrium Oksalat dapat membentuk ikatan dengan Ca darah, membentuk Ca-oksalat yang tidak larut. Dibutuhkan dalam bentuk larutan 0,1 N dengan perbandingan 1: 9 = Na-oksalat ; Darah.
5.      Natrium Sitrat
Natrium Sitrat dapat membentuk ikatan dengan Ca darah, membentuk Ca-sitrat yang tidak larut. Dibutuhkan dalam bentuk larutan 3,8% dengan perbandingan 1: 4= Na-sitrat : Darah.
6.      Amonium dan Kalium Oksalat
Amonium dan Kalium Oksalat merupakan campuran antara amonium dan kalium oksalat, tidak berpengaruh terhadap besamya eritrosit, tetapi mempengaruhi morfologi leukosit. Antikoagulan ini mengikat Ca darah membentuk Ca-oksalat yang tidak larut. Dibutuhkan 1mg untuk setiap 1 ml darah. Dapat dipergunakan untuk menentukan: Kadar Hb, PCV, dan Penghitungan sel darah.

III.       Alat dan Bahan
1.      Jarum lanset
2.      Kapas + alkohol 70%
3.      Gelas objek
4.      Tusuk gigi
5.      Stop watch

IV. Cara Kerja
Menyiapkan gelas obyek yang bersih, membersihkan ujung jari telunjuk dengan alkohol 70% dan menuusukkan jarum franke ke ujung jari tadi, dan menghapus tetesan darah yang keluar pertama kali kemudian meletakkan tetesan berikutnya pada ujung gelas obyek dan mencatat waktu yang ada (mulai menyalakan stop watch), selanjutnya meneteskan darah pada ujung gelas obyek yang lain
Menarik tetesan darah yang pertama dengan tusuk gigi (sudut kemiririgan 45 derajat) dengan kecepatan lambat sampai terlihat benang fibrin dan segera beralih pada tetesan darah yang ke-2 (juga sampai terlihat benang fibrin, kemudian mencatat waktu yang ada). Mengulangi cara tersebut di atas sebanyak 3 kali untuk setiap praktikan.

V. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tabel Penetapan Waktu Koagulasi Darah

No
Nama Probandus
Waktu
Rata-rata
1
Fida
3’20”
3’32”
2
Tika
3’25”
3
Evi
3’30”
4
Virna
3’40”
5
Ratih
3’48”




Benang-benang fibrin




 

 
Gambar 1. Benang-benang fibrin setelah kurun waktu tertentu

 Tabel Hasil Pengamatan
No
Gambar
Keterangan
1

Tetesan darah diletakkan pada media obyek. Saat tetesan darah pertama diletakkan pada gelas obyek saat itulah stopwatch dijalankan
2


Hapusan darah ditarik-tarik dengan menggunakan lidi hingga terbentuk benang-benang fibrin
3

Setelah kurun waktu tertentu akan terbentuk benang-benang fibrin. Waktu koagulasi adalah saat sejak pencatatan keluarnya darah pertama sampai tepat mulai terlihat benang fibrin pada tetesan kedua.


VI. Pembahasan
Dalam praktikum penetapan waktu koagulasi darah kali ini dilakukan pengukuran waktu yang diperlukan darah untuk membentuk suatu gumpalan-gumpalan seperti benang. Hal ini dilakukan dengan cara menusuk ujung jari praktikan hingga mengeluarkan darah yang kemudian diteteskan pada object glass. Kemudian dilakukan pengadukan pada tetesan darah menggunakan tusuk gigi serta mencatat waktu yang diperlukan hingga pada ujung tusuk gigi terdapat darah yang berbentuk seperti benang-benang yang berarti darah telah membeku.
Koagulasi adalah proses koagulasi darah, yaitu transformasi darah dari sifat solution menjadi bentuk gel. Proses koagulasi darah dipengaruhi oleh beberapa faktor intrinsic ( misalnya fibrinogen, protrombin, proconvertin) dan ekstrinsik darah (misalnya tromboplastin jaringan, tromboplastin pembuluh, luka, permukaan kasar atau halus, suhu lingkungan, pengenceran, dan bahan anti koagulasi).
Dalam proses koagulasi darah terdapat beberapa factor yang berperan penting, yaitu :
Faktor I. Fibrinogen
Faktor II. Prothrombin
Faktor III. Thromboplastin
Faktor IV. Calcium
Faktor V. Proaccelerin labile factor ( accelerator globulin)
Faktor VI.
Faktor VII. Proconvertin
Faktor VIII. Antihemofilic factor A (antihemofili globulin)
Faktor IX. Plasma thromboplastin component (PTC – antihemofili B / Chrismass Factor)
Faktor X. Stuart proyer factor
Faktor XI. Plasma thromboplastin anteccedent (PTA – antihemofili C)
Faktor XII. Hageman Factor (glass factor)
Faktor XIII. Fibrin stablizing factor
Proses yang mengawali pembentukan bekuan fibrin sebagai respons terhadap cedera jaringan dilaksanakan oleh lintasan ekstrinsik. Lintasan intrinsic pengaktifannya berhubungan dengan suatu permukaan yang bermuatan negative. Lintasan intrinsic dan ekstrinsik menyatu dalam sebuah lintasan terkahir yang sama yang melibatkan pengaktifan protrombin menjadi thrombin dan pemecahan fibrinogen yang dikatalis thrombin untuk membentuk fibrin. Pada peristiwa diatas melibatkan macam jenis protein yaitu dapat diklasifikaskan sebagai berikut:
a. Zimogen protease yang bergantung pada serin dan diaktifkan pada proses koagulasi
b. Kofaktor
c. Fibrinogen
d. Transglutaminase yang menstabilkan bekuan fibrin
e. Protein pengatur dan sejumla protein lainnya
Dalam pembetukan bekuan fibrin terdapat dua lintasan, yaitu lintasan instrinsik dan lintasan ekstrinsik. Kedua lintasan ini tidak bersifat independen walau ada perbedaan artificial yang dipertahankan. Proses koagulasi darah melalui lintasan intrinsik dan lintasan ekstrinsik dapat digambarkan sebagai berikut :



Pada hasil pengamatan darah 5 praktikan didapatkan waktu koagulasi darah yang berbeda-beda, antara lain 3’20”. 3’25”, 3’30”, 3’40”, dan 3’48” dengan rata-rata waktu koagulasi selama 3 menit 32 detik.. Hal ini disebabkan masing-masing sampel darah diambil dari orang yang berbeda-beda yang juga memiliki golongan darah yang berbeda. Masing-masing golongan darah memiliki jenis serta kadar antibodi yang berbeda-beda. Antibodi dapat ditemukan pada aliran darah dan cairan nonseluler. Antibodi disebut juga immunoglobulin (Ig) atau serum protein globulin yang merupakan faktor penghambat protein koagulasi darah. Sehingga waktu koagulasi pada tiap sammpel darah sangat bervariasi.                                                                                                         
Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam (Frandson, 1992). Dari hasil pengamatan, data koagulasi kelompok masih berada dalama kisaran normal, yaitu antara 15 detik hingga 2 menit dan berakhir dalam waktu 5 menit.
VII. Kesimpulan
Pada proses koagulasi darah didapatkan benang fibril yang diperoleh ketika darah sudah hampir menggumpal. Proses koagulasi darah setiap individu manusia berbeda-beda sesuai dengan golongan darah masing-masing dikarenakan setiap golongan darah meniliki antibodi yang berbeda-beda.                                 
 Waktu rata-rata data kelompok untuk proses koagulasi adalah 3’32” atau 3 menit 32 detik. Dari hasil pengamatan, data koagulasi kelompok masih berada dalama kisaran normal, yaitu antara 15 detik hingga 2 menit dan berakhir dalam waktu 5 menit. 

VIII. Daftar Pustaka

Dr. Nurcahyo, Heru. 2003. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan Dasar. Yogyakarta:        
 Jurdik Biologi FMIPA UNY.                                                                         
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada Uneversity Press:          Yogyakarta.                                                                                                      
 Khairul Osman. 2007. Gangguan Pendarahan. Jakarta: Essential Hematology.          
 Marks, Dawn ; Marks, Allan ; Smith, Collen. 1996. Biokimia Kedoketran Dasar :   Sebuah            Pendekatan Klinis. Jakarta : Penerbit ECG.                                                                 
Soewolo, M. Pd., dkk. 1999. Fisiologi Manusia. Malang: FMIPA UNM.              
 Soedjono, Basuki M.Pd. 1988. Anatomi dan Fisioplogi Manusia. Jakarta: Depdikbud.
Syamsiar Nangsari, Nyayu. 1988. Pengantar Fisiologi Manusia. Jakarta: Depdikbud         
PPLPTK Jakarta.

Leave a Reply

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .

Saturday, February 4, 2012

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN PENETAPAN WAKTU KOAGULASI DARAH


LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
PENETAPAN WAKTU KOAGULASI DARAH

WAKTU  PRAKTIKUM       :  Rabu, 23 November 2011
ASISTENSI                            :  Sugiharto, S.Si., M.Si


Kelompok D1

1.   Nur Afidatul Maulidiyah               (080914016)
2.   Ratih Kuspriyadani                        (080914023)
3.   Evi Kustiningtyas                           (080914031)
4.   Virna Dwi Risnawanti                    (080914034)
5.   Kartika Primasari                            (080914110)

DEPARTEMEN BIOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2011

ACARA PRAKTIKUM : VIII
PENETAPAN WAKTU KOAGULASI DARAH
I.       Tujuan
Praktikan dapat mempelajari dan memahami waktu koagulasi darah serta dapat membuktikan adanya benang fibrin yang berperan saat koagulasi darah.

II.    Dasar teori
Koagulasi darah adalah transformasi darah dari sifat solution menjadi bentuk gel. Bentukan suatu bekuan di sumbat trombosit akan memperkuat dan menunjang sumbatan tersebut dapat menutupi lubang di pembuluh. Koagulasi merupakan mekanisme homeostatik yang difungsikan dalam proses koagulasi darah. Reaksi dasar koagulasi darah adalah perubahan protein plasma yang larut (fibrinogen) dari fibrin yang bersifat tidak larut. Proses tersebut memerlukan pengeluaran 2 pasang peptide 4c dari setiap molekul fibrinogen. Bagian yang tersisa (fibrin monomer) kemudian akan berpolimerasi rerga-, fibrin monomer lainnya membentuk fibrin.

Menurut Campbell (2003), proses penggumpalan darah dimulai ketika endothelium pembuluh MisaK akibat adanya luka dan jaringan ikat pada dinding terpapar ke darah. Trombosit menempel ke wa'. Kolagen dalam jaringan ikat tersebut dan mengeluarkan fibrinogen yang membuat trombosit riaur-a berdekatan dan menjadi lengket, Trombosit selanjutnya membentuk sumbat yang memberikan reriindungan darurat sehingga tidak terjadi kehilangan darah. Penutupan ini diperkuat oleh gumpalan.

Trombin adalah suatu enzim yang dapat mengubah fibrinogen menjadi benang fibrin (yang dperiukan untuk terjadinya proses koagulasi darah), Selain itu, trombin juga berfungsi untuk : mengaktifkan factor Xlil (fibrin stabilizing factor, untuk menstabilkan jaringan fibrin yang sudah terbentuk); meningkatkan agregasi trombosit; sebagai umpan balik positif pada peristiwa pembentukan trombin selanjutnya. Berikut ini adalah faktor-faktor koagulasi darah
Faktor I. Fibrinogen
Faktor II. Prothrombin
Faktor III. Thromboplastin
Faktor IV. Calcium
Faktor V. Proaccelerin labile factor ( accelerator globulin)
Faktor VI.
Faktor VII. Proconvertin
Faktor VIII. Antihemofilic factor A (antihemofili globulin)
Faktor IX. Plasma thromboplastin component (PTC – antihemofili B / Chrismass Factor)
Faktor X. Stuart proyer factor
Faktor XI. Plasma thromboplastin anteccedent (PTA – antihemofili C)
Faktor XII. Hageman Factor (glass factor)
Faktor XIII. Fibrin stablizing factor

Anti Koagulasi pada Pemeriksaan Hematologi
Pada pemeriksaan hematologi, dibutuhkan anti koagulan untuk mancegah terjadinya koagulasi darah. Tidak semua anti koagulan dapat dipakai, karena ada yang dapat mempengaruhi morfologi eritrosit dan leukosit. Beberapa macam anti koagulan yang sering dipergunakan adalah :
1.      EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic Acid)
Antikoagulan dengan prinsip sebagai chelating agent, yang dipergunakan adalah garam Na dan K untuk mengubah ion Ca dalam darah menjadi bentuk yang bukan ion. EDTA tidak berpengaruh terhadap besar dan bentuk eritrosit ataupun leukosit, dapat mencegah penggumpalan trombosit, Pemakaian 1 mg serbuk kering dapat mencegah koagulasi 1 ml darah. Dapat dipergunakan untuk menentukan : Kadar Hb, PCV, LED, Penentuan golongan darah, Penghitungan sel darah, dan Pembuatan hapusan sel darah.
2.      Heparin
Merupakan antikoagulan normal dalam tubuh, beke6a sebagai anti trombin dan anti tromboplastin. Jarang dipergunakan untuk pemeriksaan hematologis. Pada pemerikaan kurang dari 2 jam, tidak mempengaruhi bentuk eritrosit dan leukosit tetapi tidak baik untuk pemeriksaan hapusan darah. Diperiukan sebanyak 0,1-0,2 mg setiap 1ml darah. Dapat dipergunakan untuk menentukan: PCV dan Penghitungan sel darah.
3.      Kalium Oksalat
Dapat membentuk ikatan dengan Ca darah, membentuk Ca-0ksalat yang tidak larut. Dibutuhkan 2 mg untuk setiap I ml darah. Dapat menyebabkan penyusutan volume darah sehingga tidak baik untuk pemeriksaan volume sel mengguriakan hematokrit.
4.      Natrium Oksalat
Natrium Oksalat dapat membentuk ikatan dengan Ca darah, membentuk Ca-oksalat yang tidak larut. Dibutuhkan dalam bentuk larutan 0,1 N dengan perbandingan 1: 9 = Na-oksalat ; Darah.
5.      Natrium Sitrat
Natrium Sitrat dapat membentuk ikatan dengan Ca darah, membentuk Ca-sitrat yang tidak larut. Dibutuhkan dalam bentuk larutan 3,8% dengan perbandingan 1: 4= Na-sitrat : Darah.
6.      Amonium dan Kalium Oksalat
Amonium dan Kalium Oksalat merupakan campuran antara amonium dan kalium oksalat, tidak berpengaruh terhadap besamya eritrosit, tetapi mempengaruhi morfologi leukosit. Antikoagulan ini mengikat Ca darah membentuk Ca-oksalat yang tidak larut. Dibutuhkan 1mg untuk setiap 1 ml darah. Dapat dipergunakan untuk menentukan: Kadar Hb, PCV, dan Penghitungan sel darah.

III.       Alat dan Bahan
1.      Jarum lanset
2.      Kapas + alkohol 70%
3.      Gelas objek
4.      Tusuk gigi
5.      Stop watch

IV. Cara Kerja
Menyiapkan gelas obyek yang bersih, membersihkan ujung jari telunjuk dengan alkohol 70% dan menuusukkan jarum franke ke ujung jari tadi, dan menghapus tetesan darah yang keluar pertama kali kemudian meletakkan tetesan berikutnya pada ujung gelas obyek dan mencatat waktu yang ada (mulai menyalakan stop watch), selanjutnya meneteskan darah pada ujung gelas obyek yang lain
Menarik tetesan darah yang pertama dengan tusuk gigi (sudut kemiririgan 45 derajat) dengan kecepatan lambat sampai terlihat benang fibrin dan segera beralih pada tetesan darah yang ke-2 (juga sampai terlihat benang fibrin, kemudian mencatat waktu yang ada). Mengulangi cara tersebut di atas sebanyak 3 kali untuk setiap praktikan.

V. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Tabel Penetapan Waktu Koagulasi Darah

No
Nama Probandus
Waktu
Rata-rata
1
Fida
3’20”
3’32”
2
Tika
3’25”
3
Evi
3’30”
4
Virna
3’40”
5
Ratih
3’48”




Benang-benang fibrin




 

 
Gambar 1. Benang-benang fibrin setelah kurun waktu tertentu

 Tabel Hasil Pengamatan
No
Gambar
Keterangan
1

Tetesan darah diletakkan pada media obyek. Saat tetesan darah pertama diletakkan pada gelas obyek saat itulah stopwatch dijalankan
2


Hapusan darah ditarik-tarik dengan menggunakan lidi hingga terbentuk benang-benang fibrin
3

Setelah kurun waktu tertentu akan terbentuk benang-benang fibrin. Waktu koagulasi adalah saat sejak pencatatan keluarnya darah pertama sampai tepat mulai terlihat benang fibrin pada tetesan kedua.


VI. Pembahasan
Dalam praktikum penetapan waktu koagulasi darah kali ini dilakukan pengukuran waktu yang diperlukan darah untuk membentuk suatu gumpalan-gumpalan seperti benang. Hal ini dilakukan dengan cara menusuk ujung jari praktikan hingga mengeluarkan darah yang kemudian diteteskan pada object glass. Kemudian dilakukan pengadukan pada tetesan darah menggunakan tusuk gigi serta mencatat waktu yang diperlukan hingga pada ujung tusuk gigi terdapat darah yang berbentuk seperti benang-benang yang berarti darah telah membeku.
Koagulasi adalah proses koagulasi darah, yaitu transformasi darah dari sifat solution menjadi bentuk gel. Proses koagulasi darah dipengaruhi oleh beberapa faktor intrinsic ( misalnya fibrinogen, protrombin, proconvertin) dan ekstrinsik darah (misalnya tromboplastin jaringan, tromboplastin pembuluh, luka, permukaan kasar atau halus, suhu lingkungan, pengenceran, dan bahan anti koagulasi).
Dalam proses koagulasi darah terdapat beberapa factor yang berperan penting, yaitu :
Faktor I. Fibrinogen
Faktor II. Prothrombin
Faktor III. Thromboplastin
Faktor IV. Calcium
Faktor V. Proaccelerin labile factor ( accelerator globulin)
Faktor VI.
Faktor VII. Proconvertin
Faktor VIII. Antihemofilic factor A (antihemofili globulin)
Faktor IX. Plasma thromboplastin component (PTC – antihemofili B / Chrismass Factor)
Faktor X. Stuart proyer factor
Faktor XI. Plasma thromboplastin anteccedent (PTA – antihemofili C)
Faktor XII. Hageman Factor (glass factor)
Faktor XIII. Fibrin stablizing factor
Proses yang mengawali pembentukan bekuan fibrin sebagai respons terhadap cedera jaringan dilaksanakan oleh lintasan ekstrinsik. Lintasan intrinsic pengaktifannya berhubungan dengan suatu permukaan yang bermuatan negative. Lintasan intrinsic dan ekstrinsik menyatu dalam sebuah lintasan terkahir yang sama yang melibatkan pengaktifan protrombin menjadi thrombin dan pemecahan fibrinogen yang dikatalis thrombin untuk membentuk fibrin. Pada peristiwa diatas melibatkan macam jenis protein yaitu dapat diklasifikaskan sebagai berikut:
a. Zimogen protease yang bergantung pada serin dan diaktifkan pada proses koagulasi
b. Kofaktor
c. Fibrinogen
d. Transglutaminase yang menstabilkan bekuan fibrin
e. Protein pengatur dan sejumla protein lainnya
Dalam pembetukan bekuan fibrin terdapat dua lintasan, yaitu lintasan instrinsik dan lintasan ekstrinsik. Kedua lintasan ini tidak bersifat independen walau ada perbedaan artificial yang dipertahankan. Proses koagulasi darah melalui lintasan intrinsik dan lintasan ekstrinsik dapat digambarkan sebagai berikut :



Pada hasil pengamatan darah 5 praktikan didapatkan waktu koagulasi darah yang berbeda-beda, antara lain 3’20”. 3’25”, 3’30”, 3’40”, dan 3’48” dengan rata-rata waktu koagulasi selama 3 menit 32 detik.. Hal ini disebabkan masing-masing sampel darah diambil dari orang yang berbeda-beda yang juga memiliki golongan darah yang berbeda. Masing-masing golongan darah memiliki jenis serta kadar antibodi yang berbeda-beda. Antibodi dapat ditemukan pada aliran darah dan cairan nonseluler. Antibodi disebut juga immunoglobulin (Ig) atau serum protein globulin yang merupakan faktor penghambat protein koagulasi darah. Sehingga waktu koagulasi pada tiap sammpel darah sangat bervariasi.                                                                                                         
Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah 15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit. Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume semula dalam waktu 24 jam (Frandson, 1992). Dari hasil pengamatan, data koagulasi kelompok masih berada dalama kisaran normal, yaitu antara 15 detik hingga 2 menit dan berakhir dalam waktu 5 menit.
VII. Kesimpulan
Pada proses koagulasi darah didapatkan benang fibril yang diperoleh ketika darah sudah hampir menggumpal. Proses koagulasi darah setiap individu manusia berbeda-beda sesuai dengan golongan darah masing-masing dikarenakan setiap golongan darah meniliki antibodi yang berbeda-beda.                                 
 Waktu rata-rata data kelompok untuk proses koagulasi adalah 3’32” atau 3 menit 32 detik. Dari hasil pengamatan, data koagulasi kelompok masih berada dalama kisaran normal, yaitu antara 15 detik hingga 2 menit dan berakhir dalam waktu 5 menit. 

VIII. Daftar Pustaka

Dr. Nurcahyo, Heru. 2003. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan Dasar. Yogyakarta:        
 Jurdik Biologi FMIPA UNY.                                                                         
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada Uneversity Press:          Yogyakarta.                                                                                                      
 Khairul Osman. 2007. Gangguan Pendarahan. Jakarta: Essential Hematology.          
 Marks, Dawn ; Marks, Allan ; Smith, Collen. 1996. Biokimia Kedoketran Dasar :   Sebuah            Pendekatan Klinis. Jakarta : Penerbit ECG.                                                                 
Soewolo, M. Pd., dkk. 1999. Fisiologi Manusia. Malang: FMIPA UNM.              
 Soedjono, Basuki M.Pd. 1988. Anatomi dan Fisioplogi Manusia. Jakarta: Depdikbud.
Syamsiar Nangsari, Nyayu. 1988. Pengantar Fisiologi Manusia. Jakarta: Depdikbud         
PPLPTK Jakarta.

No comments:

Post a Comment

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .