Ratih Kuspriyadani

Cewek yang mencoba untuk mengejar mimpi-mimpinya...

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang apa adanya

Ratih Kuspriyadani

Cewek yang suka dengan dunianya



LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
HORMON TUMBUHAN

Disusun oleh :
Kelompok D2
1.      Nur Afidatul Maulidiyah        (080914016)
2.      Ratih Kuspriyadani                 (080914023)
3.      Lyna Febriyanti                       (080914029)
4.      Evi Kustiningtyas                   (080914031)
5.      Virna Dwi Risnawanti              (080914034)
6.      Hendra Susilo                        (080914053)

Dosen Pembimbing :
Dwi Kusuma W, S.Si, M.Si

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
TAHUN 2011

HORMON TUMBUHAN
I.                   TUJUAN
Mengetahui pengaruh berbagai ZPT terhadap perkecambahan biji.

II.                BAHAN PRAKTIKUM
-          Biji kacang hijau
-          7,0 ppm 2,4 D
-          7,0 ppm IAA
-          7,0 ppm kinetin

III.             ALAT PRAKTIKUM
-          Cawan petri
-          Pipet
-          Kertas saring

IV.             CARA KERJA
1.      Menyiapkan 4 buah cawan petri dan mengisi cawan-cawan tersebut masing-masing dengan lapisan kertas saring sebanyak 2-3 lembar,
2.      Meneteskan pada masing-masing cawan yang telah dilapisi kertas saring tersebut dengan larutan yang telah disediakan sebanyak 5-10 ml dengan pipet, dengan ketentuan:
Cawan I          (air)                              P0
Cawan II         (7,0 ppm 2,4D)            P1
Cawan III       (7,0 ppm IAA)                        P2
Cawan IV       (7,0 ppm kinetin)         P3
3.      Kemudian meletakkan dengan teratur ke dalam masing-masing cawan petri 30 biji kacang hijau,
4.      Selanjutnya menyimpan cawan-cawan petri tersebut di tempat lembab,
5.      Mengamati setiap hari jumlah biji yang berkecambah untuk setiap perlakuan dan menghitung presentasenya,
6.      Membandingkan hasilnya untuk setiap ZPT dan control (air),
7.      Mamasukkan dalan tabel dan membuat grafik hubungan antara jumlah biji yang berkecambah dengan waktu perendaman. Data yang diperoleh dengan menghitung jumlah biji yang berkecambah dalam penyemaian,
8.      Menganalisis data tersebut dengan Crossbreak Analysis (Kerlinger, 1973 dalam Purnobasuki et al.,1993) dengan tujuan mengidentifikasi hubungan antara beda viabilitas dianalisa secara non parametric dengan uji X2 (kuadrat Chi). Sedangkan kuat hubungan variabelnya diuji dengan menggunakan koefisien kontigensi © (Spiegel, 1982 dalam Purnobasuki et al.,1993) seperti yang terdapat dalam praktikum IX.

V.                DASAR TEORI

Hormon (dari kata Yunani hormaein yang berarti menggiatkan) pada khususnya dibentuk di suatu tempat, akan tetapi menunaikan fungsinya di tempat lain. Pada tumbuhan tidak diketahui adanya berjenis-jenis hormon seperti yang terdapat pada hewan dan manusia.
Fitohormon adalah bahan atau zat pengatur tumbuh tanaman yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri. Zat ini efektif bekerja pada kadar yang sangat rendah, tempat di buat berbeda dengan tempat bekerjanya. Transpornya berlangsung lewat berkas pengangkut. Kadang-kadang tempat bekerjanya juga merupakan tempat pembuatannya, namun berbeda sel.
Berkaitan dengan hormon tumbuhan, saat ini banyak senywa sintetik yang mempunyai aktivitas seperti hormon maka digunakan istilah zat pengatur tubuh (ZPT) atau zat pengatur tubuh untuk senyawa-senyawa yang dibuat secara sintetik. ZPT yang mencakup baik zat-zat endogen maupun zat-zat eksogen (sintetik) tersebut berperan mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman untuk kelangsungan hidupnya (Wattimena 1988). Saat ini telah berhasil dibuat senyawa-senyawa sintetik yang mempunyai aktifitas sama dengan fitohormon (Mulyoprawiro, 1987).
Zat pengatur tubuh didefinisikan sebagai senyawa nutrient jika dipergunakan dalam jumlah sedikit akan mempengaruhi proses fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman atau lebih praktisnya dapat diartikan bahwa ZPT adalah baik buatan atau asli jika diperlakukan ke tanaman akan mengubah proses hidup atau struktur tanamn untuk memperbaiki kualitas, manaikkan atau memperbaiki panen (Mulyoprawiro,1987).
Zat pengatur tumbuh di dalam tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu: auksin, sitokinin, giberelin, etilen, dan inhibitor dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologi. Menurut Sriyanti dan Wijayani (1994) ZPT diperlukan sebagai komponen media bagi pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa penambahan ZPT dalam media, pertumbuhan sangat terhambat bahkan mungkin tidak tumbuh sama sekali. Pembentukan kalus dan organ-organ ditentukan oleh penggunaan ZPT yang tepat dari ZPT tersebut. Pertumbuhan tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu hormon, tetapi merupakan hasil kerjasama antara kelima kelompok hormo tersebut.
Senyawa-senyawa yang tergolong auksin meliputi IAA (Indol Acetic Acid), IBA (Indol Butyric Acid), NAA (naphtalane Acetic Acid), 2,4-D (2,4 Dichlorofenoxy Acetic Acid). Rangsangan auksin yang paling kuat terutama adalah terhadap sel-sel meristem apical batang dan koleoptil. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukkan adana indikasi bahwa auksin dapat menaikkan tekanan osmotic, meningkatkan sintesis protein, meningkatkan permeabelitas sel terhadap air, dan melunakkan dinding sel yang diikuti menurunnya tekanan dinding sel sehingga air dapat masuk ke dalam sel yang disertai kenaikan volume sel. Dengan adanya kenaikan sintesis protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan (Sriyanti & Wijayani, 1994).
Pada batang sebagian besar spesies, kuncup apikal memberikan pengaruh yang menghambat pertumbuhan kuncup lateral (ketiak), dengan kata lain terjadi dominansi apikal. Hal ini terjadi karena pertumbuhan pucuk apikal menghambat atau mencegah pertumbuhan kuncup lateral atau samping. Adanya dominansi apikal ini mengandung nilai pertahanan hidup yang pasti, karena bila kuncup apikal rusak atau dimakan hewan atau patah oleh kuatnya hembusan angin, maka hal ini akan memacu pertumbuhan kuncup samping dan menjadi tajuk utama. Efek dominansi apikal lainnya adalah menyebabkan terjadinya percabangan di bagian bawah yang tumbuh agak mendatar, pertumbuhan mendatar ini mengakibatkan cabang terhindar dari naungan sehingga produktivitas fotosintesis meningkat.
Aktivitas fitohormon juga berhubungan dengan kondisi lingkungan, contohnya aktivitas auksin dapat dipengaruhi oleh cahaya. Telah dibuktikan bahwa sinar dapat merusak auksin dan dapat pula menyebabkan pemindahan auksin kea rah menjahui sinar. Pengkasan unjung koleoptil tumbuhan Avena yang diletakkan di atas blok agar-agar yang tengahnya disekat dengan suatu papan dari mika (plastic), ternyata setelah disinari dari satu arah tertentu mengakibatkan konsentrasi auksin di kedua blok tidak sama. Hal ini menunjukkan bahwa arah sinar mempengaruhi distribusi auksin.


VI.             HASIL PENGAMATAN
Tabel1. Lama waktu perkecambahan biji kacang hijau (hari) pada beberapa perlakuan
No. Biji
Macam Perlakuan
P0
P1
P2
P3
1
2
2
1
-
2
2
-
1
-
3
2
2
1
3
4
2
-
1
2
5
-
2
5
2
6
2
2
-
3
7
2
3
1
2
8
2
2
1
3
9
2
3
1
1
10
2
2
1
1
11
2
1
1
-
12
2
2
1
3
13
5
1
1
3
14
2
3
1
3
15
2
2
1
2
16
2
-
1
3
17
2
3
1
3
18
2
1
1
3
19
5
-
1
1
20
2
1
1
3
21
2
2
1
2
22
2
2
1
3
23
2
2
1
3
24
2
3
1
2
25
2
1
1
3
26
2
2
1
3
27
2
2
1
3
28
2
3
5
3
29
2
-
1
3
30
2
3
2
-
Total
64 
52 
 38
77 
Rata-rata
 2.13
 1.73
 1.26
 2.56

Tabel 2.Viabilitas biji kacang hijau pada beberapa perlakuan
Macam perlakuan (lama perendaman)
Jumlah biji yang disemai (butir)
Jumlah biji yang berkecambah (butir)
Persen kecambah
(%)
P0 (air)
30
29
97
P1 (2,4-D)
30
25
83
P2 (IAA)
30
29
97
P3 (kinetin)
30
26
87
Total
120
109
-

VII.          ANALISIS DATA

Tabel 3. Jumlah biji yang viabel dan non viabel dari tiap perlakuan
Macam Perlakuan
Jumlah Biji yang Viabel
Jumlah Biji yang tidak Viabel
Jumlah
O
E
O
E
P0
29
27.25
1
2.75
30
P1
25
27.25
5
2.75
30
P2
29
27.25
1
2.75
30
P3
26
27.25
4
2.75
30


α = 0,01
v = (n-1) = (4-1)= 3        
n = banyak perlakuan     
Jadi 0< C < 0.20 Cmaks  (korelasi rendah sekali)
1.  Air : IAA
     χ2 = 0.112 + 0112 = 0.224
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                  (korelasi rendah sekali)
                
2.  Air : 2,4-D
     χ2 =  0.112 + 0.186 = 0.298
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)

3.  Air : Kinetin
     χ2 = 0.112 + 0.057 = 0.169
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)

4.  IAA : 2,4-D
     χ2 = 0.112+0.186 = 0.298
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)

5.      IAA : Kinetin
     χ2 = 0.112 + 0.057 = 0.169
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)
6.   2,4-D : Kinetin
     χ2 = 0.186 + 0.057 = 0.243
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)

Table 2. Perbandingan korelasi antar perlakuan 
Perbandingan antar perlakuan
Korelasi
Air : IAA
Korelasi rendah sekali
Air : 2,4-D
Korelasi rendah sekali
Air : Kinetin
Korelasi rendah sekali
IAA : 2,4-D
Korelasi rendah sekali
IAA : Kinetin
Korelasi rendah sekali
2,4-D : Kinetin
Korelasi rendah sekali
kacang hijau di IAA pada hari ke-1
kacang hijau di air hari ke-5
kacang hijau di IAA pada hari ke-1
kacang hijau di air pada hari ke 1
kacang hijau di IAA hari ke-5
VIII.       PEMBAHASAN
Untuk menguji kuat hubungan variabelnya maka digunakan perhitungan koefisien kontingensi (C) serta koefisien kontingensi maksimum (Cmaks). Dan setelah dilakukan perhitungan maka didapatkan hasil koefisien kontingensi (C) dari data yang dialisis adalah bernilai 0,063, dan koefisien kontingensi maksimum (Cmaks) berada dalam kisaran yang rendah sekali dengan nilai 0,07. Sehingga kesimpulannya korelasi antara jumlah biji yang berkecambah dengan tiap perlakuan sangat tinggi sekali.
            Dari hasil pengamatan yang dilakukan mengenai pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT) terdadap perkecambahan biji yaitu perlakuan dengan larutan 2,4-D, IAA, dan kinetin dengan konsentrasi 7.0 ppm serta parlakuan dengan air sebagai variable control. Persentase biji kacang hijau yang berkecambah dengan perlakuan air sebesar 97%, perlakuan 2,4-D sebesar 83%, perlakuan IAA sebesar 97%, dan perlakuan kinetin sebesar 87%. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, persentase biji kacang hijau yang diberi perlakuan dengan air dan larutan IAA lebih besar dari perlakuan lainnya. Sehingga jenis zat pengatur tumbuh yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman tersebut merupakan air dan IAA. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal, sedangkan fungsi IAA merupakan senyawa yang bertindak sebagai hormon auksin atau hormon pertumbuhan.
            Zat pengatur tumbuh sangat berperan dalam proses perkecambahan. Semakin tinggi konsentrasi larutan ZPT maka persentase biji kacang hijau yang berkecambah semakin banyak. Dari hasil di atas menunjukkan bahwa proses perkecambahan biji sangat dipengaruhi oleh konsentrasi suatu larutan, jenis larutan dan potensi air pada zat tersebut.
            Pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti halnya lingkungan, tetapi juga oleh hormon yang ada didalam tanaman. Hormon bisa mempengaruhi tingkat produktifitas maupun kualitasnya. Hormon yang berasal dari bahasa Yunani yaitu hormaein ini mempunyai arti merangsang, membangkitkan atau mendorong timbulnya suatu aktivitas biokimia. Maka hormon tanaman dapat didefinisikan sebagai senyawa organik tanaman yang bekerja aktif dalam jumlah sedikit, ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses fisiologi tanaman. Zat pengatur tumbuh terdiri dari beberapa jenis, yaitu auksin, giberelin, sitokinin, ethylen, dan asam absisat (ABA).  Auksin merupakan salah satu dari kelompok hormon tanaman seperti indolasetat yang berfungsi untuk merangsang pembesaran sel, sintesis DNA kromosom, serta pertumbuhan sepanjang aksis longitudinal tanaman.  Giberelin merupakan hormon perangsang pertumbuhan tanaman yang diperoleh dari Gibberella fujikuroi atau Fusarium moniliforme. Sitokinin merupakan hormon tumbuhan turunan adenin dan berfungsi untuk merangsang pembelahan sel dan diferensiasi mitosis, disintesis pada ujung akar dan ditranslokasi melalui pembuluh xylem.  Ethylen (Prothephon) merupakan hormon yang berupa gas yang dalam kehidupan tanaman aktif dalam proses pematangan buah.  Asam absisat (ABA), sebagai penghambat tumbuh (Inhibitor) pada saat tanaman mengalami stress, fitohormon ini digunakan untuk mengompakkan pertumbuhan batang agar tanaman terlihat sangat baik. Pada komposisi dan perlakuan tertentu dapat merangsang pertumbuhan tunas anakan dengan cepat dan serentak.
            Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah. Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air). Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar) dan biji melunak. Proses ini merupakan murni fisik . Selain itu proses perkecambahan juga dipengaruhi oleh faktor dalam yaitu meliputi : tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan.


IX.             DISKUSI
1.      Bagaimanakah pengaruh ZPT terhadap perkecambahan biji ?
ZPT dapat merangsang perkecambahan biji. Biji dapat cepat tumbuh karena ZPT dapat meningkatkan permeabilitas sel terhadap air dan melunakkkan dinding sel sehingga air dapat masuk ke dalam sel yang disertai kenaikan volume sel. Dengan adanya kenaikan sintesis protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam perkecambahan biji kacang hijau.
2.      Apakah terdapat perbedaan hasil perkecambahan pada berbagai perlakuan? Mengapa?
Ada perbedaan hasil perkecambahan pada berbagai perlakuan terutama pada biji yang berada dalam IAA. Pada IAA perkecambahan terjadi pada hari pertama. Hal tersebut dikarenakan masing-masing ZPT memiliki fungsi berbeda-beda dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan ada beberapa jenis fitohormon yang bekerjanya berbanding terbalik seperti kinetin dan auksin.
3.      Manakah dari perlakuan-perlakuan tersebut yang memberikan hasil optimal pada perkecambahan biji ?
Pada perlakuan pemberian 7,0 ppm IAA (Indol Acetic Acid) dapat memberikan hasil yang optimal.
4.      Apakah fungsi dari penempatan cawan petri di ruang gelap?
Fungsi dari cawan petri diletakkan di tempat gelap yaitu untuk mempercepat proses perkecambahan. Hal ini terjadi karena paada tempat yang gelap, hormon auksin yang ada di dalam biji kacang hijau menjadi aktif dan merangsang pemanjangan sel-sel tumbuhan seperti akar.

X.                KESIMPULAN
Dari praktikum hormon tumbuhan ini dapat diperoleh kesimpulan :
  1. Biji yang memiliki prosentase pertumbuhan paling banyak dari keempat perlakuan ZPT adalah biji yang diimbibisikan dalam air dan IAA dengan prosentase keduanya sebesar 97%. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal, sedangkan fungsi IAA merupakan senyawa yang bertindak sebagai hormon auksin atau hormon pertumbuhan.
  2. Koefisien kontigensi dari data biji kacang hijau diperoleh nilai sebesar 0,063 dan koefisien kontigensi maksimum sebesar 0,707 yang menandakan bahwa korelasi antara biji dengan ZPT adalah rendah sekali.
XI.             DAFTAR PUSTAKA
Ismadi, M. H. 1993. Biokimia Umum. Gadjah Mada Press Yogyakarta.
Lakitan Benyamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Loveless, AR. 2002. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Daerah Tropik. Jakarta : PT.         Gramedia.
Purnobasuki, Hery. 1993. Panduan Praktikum Fisiologi Tumbuhan.
Salibury. B, dan Cleon W. 2001. Ross. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB

Leave a Reply

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .

Saturday, February 4, 2012

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN HORMON TUMBUHAN



LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
HORMON TUMBUHAN

Disusun oleh :
Kelompok D2
1.      Nur Afidatul Maulidiyah        (080914016)
2.      Ratih Kuspriyadani                 (080914023)
3.      Lyna Febriyanti                       (080914029)
4.      Evi Kustiningtyas                   (080914031)
5.      Virna Dwi Risnawanti              (080914034)
6.      Hendra Susilo                        (080914053)

Dosen Pembimbing :
Dwi Kusuma W, S.Si, M.Si

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
TAHUN 2011

HORMON TUMBUHAN
I.                   TUJUAN
Mengetahui pengaruh berbagai ZPT terhadap perkecambahan biji.

II.                BAHAN PRAKTIKUM
-          Biji kacang hijau
-          7,0 ppm 2,4 D
-          7,0 ppm IAA
-          7,0 ppm kinetin

III.             ALAT PRAKTIKUM
-          Cawan petri
-          Pipet
-          Kertas saring

IV.             CARA KERJA
1.      Menyiapkan 4 buah cawan petri dan mengisi cawan-cawan tersebut masing-masing dengan lapisan kertas saring sebanyak 2-3 lembar,
2.      Meneteskan pada masing-masing cawan yang telah dilapisi kertas saring tersebut dengan larutan yang telah disediakan sebanyak 5-10 ml dengan pipet, dengan ketentuan:
Cawan I          (air)                              P0
Cawan II         (7,0 ppm 2,4D)            P1
Cawan III       (7,0 ppm IAA)                        P2
Cawan IV       (7,0 ppm kinetin)         P3
3.      Kemudian meletakkan dengan teratur ke dalam masing-masing cawan petri 30 biji kacang hijau,
4.      Selanjutnya menyimpan cawan-cawan petri tersebut di tempat lembab,
5.      Mengamati setiap hari jumlah biji yang berkecambah untuk setiap perlakuan dan menghitung presentasenya,
6.      Membandingkan hasilnya untuk setiap ZPT dan control (air),
7.      Mamasukkan dalan tabel dan membuat grafik hubungan antara jumlah biji yang berkecambah dengan waktu perendaman. Data yang diperoleh dengan menghitung jumlah biji yang berkecambah dalam penyemaian,
8.      Menganalisis data tersebut dengan Crossbreak Analysis (Kerlinger, 1973 dalam Purnobasuki et al.,1993) dengan tujuan mengidentifikasi hubungan antara beda viabilitas dianalisa secara non parametric dengan uji X2 (kuadrat Chi). Sedangkan kuat hubungan variabelnya diuji dengan menggunakan koefisien kontigensi © (Spiegel, 1982 dalam Purnobasuki et al.,1993) seperti yang terdapat dalam praktikum IX.

V.                DASAR TEORI

Hormon (dari kata Yunani hormaein yang berarti menggiatkan) pada khususnya dibentuk di suatu tempat, akan tetapi menunaikan fungsinya di tempat lain. Pada tumbuhan tidak diketahui adanya berjenis-jenis hormon seperti yang terdapat pada hewan dan manusia.
Fitohormon adalah bahan atau zat pengatur tumbuh tanaman yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri. Zat ini efektif bekerja pada kadar yang sangat rendah, tempat di buat berbeda dengan tempat bekerjanya. Transpornya berlangsung lewat berkas pengangkut. Kadang-kadang tempat bekerjanya juga merupakan tempat pembuatannya, namun berbeda sel.
Berkaitan dengan hormon tumbuhan, saat ini banyak senywa sintetik yang mempunyai aktivitas seperti hormon maka digunakan istilah zat pengatur tubuh (ZPT) atau zat pengatur tubuh untuk senyawa-senyawa yang dibuat secara sintetik. ZPT yang mencakup baik zat-zat endogen maupun zat-zat eksogen (sintetik) tersebut berperan mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman untuk kelangsungan hidupnya (Wattimena 1988). Saat ini telah berhasil dibuat senyawa-senyawa sintetik yang mempunyai aktifitas sama dengan fitohormon (Mulyoprawiro, 1987).
Zat pengatur tubuh didefinisikan sebagai senyawa nutrient jika dipergunakan dalam jumlah sedikit akan mempengaruhi proses fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman atau lebih praktisnya dapat diartikan bahwa ZPT adalah baik buatan atau asli jika diperlakukan ke tanaman akan mengubah proses hidup atau struktur tanamn untuk memperbaiki kualitas, manaikkan atau memperbaiki panen (Mulyoprawiro,1987).
Zat pengatur tumbuh di dalam tanaman terdiri dari lima kelompok yaitu: auksin, sitokinin, giberelin, etilen, dan inhibitor dengan ciri khas dan pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologi. Menurut Sriyanti dan Wijayani (1994) ZPT diperlukan sebagai komponen media bagi pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa penambahan ZPT dalam media, pertumbuhan sangat terhambat bahkan mungkin tidak tumbuh sama sekali. Pembentukan kalus dan organ-organ ditentukan oleh penggunaan ZPT yang tepat dari ZPT tersebut. Pertumbuhan tidak hanya dipengaruhi oleh salah satu hormon, tetapi merupakan hasil kerjasama antara kelima kelompok hormo tersebut.
Senyawa-senyawa yang tergolong auksin meliputi IAA (Indol Acetic Acid), IBA (Indol Butyric Acid), NAA (naphtalane Acetic Acid), 2,4-D (2,4 Dichlorofenoxy Acetic Acid). Rangsangan auksin yang paling kuat terutama adalah terhadap sel-sel meristem apical batang dan koleoptil. Pengaruh auksin terhadap perkembangan sel menunjukkan adana indikasi bahwa auksin dapat menaikkan tekanan osmotic, meningkatkan sintesis protein, meningkatkan permeabelitas sel terhadap air, dan melunakkan dinding sel yang diikuti menurunnya tekanan dinding sel sehingga air dapat masuk ke dalam sel yang disertai kenaikan volume sel. Dengan adanya kenaikan sintesis protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam pertumbuhan (Sriyanti & Wijayani, 1994).
Pada batang sebagian besar spesies, kuncup apikal memberikan pengaruh yang menghambat pertumbuhan kuncup lateral (ketiak), dengan kata lain terjadi dominansi apikal. Hal ini terjadi karena pertumbuhan pucuk apikal menghambat atau mencegah pertumbuhan kuncup lateral atau samping. Adanya dominansi apikal ini mengandung nilai pertahanan hidup yang pasti, karena bila kuncup apikal rusak atau dimakan hewan atau patah oleh kuatnya hembusan angin, maka hal ini akan memacu pertumbuhan kuncup samping dan menjadi tajuk utama. Efek dominansi apikal lainnya adalah menyebabkan terjadinya percabangan di bagian bawah yang tumbuh agak mendatar, pertumbuhan mendatar ini mengakibatkan cabang terhindar dari naungan sehingga produktivitas fotosintesis meningkat.
Aktivitas fitohormon juga berhubungan dengan kondisi lingkungan, contohnya aktivitas auksin dapat dipengaruhi oleh cahaya. Telah dibuktikan bahwa sinar dapat merusak auksin dan dapat pula menyebabkan pemindahan auksin kea rah menjahui sinar. Pengkasan unjung koleoptil tumbuhan Avena yang diletakkan di atas blok agar-agar yang tengahnya disekat dengan suatu papan dari mika (plastic), ternyata setelah disinari dari satu arah tertentu mengakibatkan konsentrasi auksin di kedua blok tidak sama. Hal ini menunjukkan bahwa arah sinar mempengaruhi distribusi auksin.


VI.             HASIL PENGAMATAN
Tabel1. Lama waktu perkecambahan biji kacang hijau (hari) pada beberapa perlakuan
No. Biji
Macam Perlakuan
P0
P1
P2
P3
1
2
2
1
-
2
2
-
1
-
3
2
2
1
3
4
2
-
1
2
5
-
2
5
2
6
2
2
-
3
7
2
3
1
2
8
2
2
1
3
9
2
3
1
1
10
2
2
1
1
11
2
1
1
-
12
2
2
1
3
13
5
1
1
3
14
2
3
1
3
15
2
2
1
2
16
2
-
1
3
17
2
3
1
3
18
2
1
1
3
19
5
-
1
1
20
2
1
1
3
21
2
2
1
2
22
2
2
1
3
23
2
2
1
3
24
2
3
1
2
25
2
1
1
3
26
2
2
1
3
27
2
2
1
3
28
2
3
5
3
29
2
-
1
3
30
2
3
2
-
Total
64 
52 
 38
77 
Rata-rata
 2.13
 1.73
 1.26
 2.56

Tabel 2.Viabilitas biji kacang hijau pada beberapa perlakuan
Macam perlakuan (lama perendaman)
Jumlah biji yang disemai (butir)
Jumlah biji yang berkecambah (butir)
Persen kecambah
(%)
P0 (air)
30
29
97
P1 (2,4-D)
30
25
83
P2 (IAA)
30
29
97
P3 (kinetin)
30
26
87
Total
120
109
-

VII.          ANALISIS DATA

Tabel 3. Jumlah biji yang viabel dan non viabel dari tiap perlakuan
Macam Perlakuan
Jumlah Biji yang Viabel
Jumlah Biji yang tidak Viabel
Jumlah
O
E
O
E
P0
29
27.25
1
2.75
30
P1
25
27.25
5
2.75
30
P2
29
27.25
1
2.75
30
P3
26
27.25
4
2.75
30


α = 0,01
v = (n-1) = (4-1)= 3        
n = banyak perlakuan     
Jadi 0< C < 0.20 Cmaks  (korelasi rendah sekali)
1.  Air : IAA
     χ2 = 0.112 + 0112 = 0.224
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                  (korelasi rendah sekali)
                
2.  Air : 2,4-D
     χ2 =  0.112 + 0.186 = 0.298
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)

3.  Air : Kinetin
     χ2 = 0.112 + 0.057 = 0.169
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)

4.  IAA : 2,4-D
     χ2 = 0.112+0.186 = 0.298
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)

5.      IAA : Kinetin
     χ2 = 0.112 + 0.057 = 0.169
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)
6.   2,4-D : Kinetin
     χ2 = 0.186 + 0.057 = 0.243
Jadi,  0 < C < 0,20 C maks                 (korelasi rendah sekali)

Table 2. Perbandingan korelasi antar perlakuan 
Perbandingan antar perlakuan
Korelasi
Air : IAA
Korelasi rendah sekali
Air : 2,4-D
Korelasi rendah sekali
Air : Kinetin
Korelasi rendah sekali
IAA : 2,4-D
Korelasi rendah sekali
IAA : Kinetin
Korelasi rendah sekali
2,4-D : Kinetin
Korelasi rendah sekali
kacang hijau di IAA pada hari ke-1
kacang hijau di air hari ke-5
kacang hijau di IAA pada hari ke-1
kacang hijau di air pada hari ke 1
kacang hijau di IAA hari ke-5
VIII.       PEMBAHASAN
Untuk menguji kuat hubungan variabelnya maka digunakan perhitungan koefisien kontingensi (C) serta koefisien kontingensi maksimum (Cmaks). Dan setelah dilakukan perhitungan maka didapatkan hasil koefisien kontingensi (C) dari data yang dialisis adalah bernilai 0,063, dan koefisien kontingensi maksimum (Cmaks) berada dalam kisaran yang rendah sekali dengan nilai 0,07. Sehingga kesimpulannya korelasi antara jumlah biji yang berkecambah dengan tiap perlakuan sangat tinggi sekali.
            Dari hasil pengamatan yang dilakukan mengenai pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT) terdadap perkecambahan biji yaitu perlakuan dengan larutan 2,4-D, IAA, dan kinetin dengan konsentrasi 7.0 ppm serta parlakuan dengan air sebagai variable control. Persentase biji kacang hijau yang berkecambah dengan perlakuan air sebesar 97%, perlakuan 2,4-D sebesar 83%, perlakuan IAA sebesar 97%, dan perlakuan kinetin sebesar 87%. Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, persentase biji kacang hijau yang diberi perlakuan dengan air dan larutan IAA lebih besar dari perlakuan lainnya. Sehingga jenis zat pengatur tumbuh yang sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman tersebut merupakan air dan IAA. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal, sedangkan fungsi IAA merupakan senyawa yang bertindak sebagai hormon auksin atau hormon pertumbuhan.
            Zat pengatur tumbuh sangat berperan dalam proses perkecambahan. Semakin tinggi konsentrasi larutan ZPT maka persentase biji kacang hijau yang berkecambah semakin banyak. Dari hasil di atas menunjukkan bahwa proses perkecambahan biji sangat dipengaruhi oleh konsentrasi suatu larutan, jenis larutan dan potensi air pada zat tersebut.
            Pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti halnya lingkungan, tetapi juga oleh hormon yang ada didalam tanaman. Hormon bisa mempengaruhi tingkat produktifitas maupun kualitasnya. Hormon yang berasal dari bahasa Yunani yaitu hormaein ini mempunyai arti merangsang, membangkitkan atau mendorong timbulnya suatu aktivitas biokimia. Maka hormon tanaman dapat didefinisikan sebagai senyawa organik tanaman yang bekerja aktif dalam jumlah sedikit, ditransportasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan atau proses-proses fisiologi tanaman. Zat pengatur tumbuh terdiri dari beberapa jenis, yaitu auksin, giberelin, sitokinin, ethylen, dan asam absisat (ABA).  Auksin merupakan salah satu dari kelompok hormon tanaman seperti indolasetat yang berfungsi untuk merangsang pembesaran sel, sintesis DNA kromosom, serta pertumbuhan sepanjang aksis longitudinal tanaman.  Giberelin merupakan hormon perangsang pertumbuhan tanaman yang diperoleh dari Gibberella fujikuroi atau Fusarium moniliforme. Sitokinin merupakan hormon tumbuhan turunan adenin dan berfungsi untuk merangsang pembelahan sel dan diferensiasi mitosis, disintesis pada ujung akar dan ditranslokasi melalui pembuluh xylem.  Ethylen (Prothephon) merupakan hormon yang berupa gas yang dalam kehidupan tanaman aktif dalam proses pematangan buah.  Asam absisat (ABA), sebagai penghambat tumbuh (Inhibitor) pada saat tanaman mengalami stress, fitohormon ini digunakan untuk mengompakkan pertumbuhan batang agar tanaman terlihat sangat baik. Pada komposisi dan perlakuan tertentu dapat merangsang pertumbuhan tunas anakan dengan cepat dan serentak.
            Perkecambahan merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah. Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air). Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar) dan biji melunak. Proses ini merupakan murni fisik . Selain itu proses perkecambahan juga dipengaruhi oleh faktor dalam yaitu meliputi : tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormansi, dan penghambat perkecambahan.


IX.             DISKUSI
1.      Bagaimanakah pengaruh ZPT terhadap perkecambahan biji ?
ZPT dapat merangsang perkecambahan biji. Biji dapat cepat tumbuh karena ZPT dapat meningkatkan permeabilitas sel terhadap air dan melunakkkan dinding sel sehingga air dapat masuk ke dalam sel yang disertai kenaikan volume sel. Dengan adanya kenaikan sintesis protein, maka dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam perkecambahan biji kacang hijau.
2.      Apakah terdapat perbedaan hasil perkecambahan pada berbagai perlakuan? Mengapa?
Ada perbedaan hasil perkecambahan pada berbagai perlakuan terutama pada biji yang berada dalam IAA. Pada IAA perkecambahan terjadi pada hari pertama. Hal tersebut dikarenakan masing-masing ZPT memiliki fungsi berbeda-beda dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan ada beberapa jenis fitohormon yang bekerjanya berbanding terbalik seperti kinetin dan auksin.
3.      Manakah dari perlakuan-perlakuan tersebut yang memberikan hasil optimal pada perkecambahan biji ?
Pada perlakuan pemberian 7,0 ppm IAA (Indol Acetic Acid) dapat memberikan hasil yang optimal.
4.      Apakah fungsi dari penempatan cawan petri di ruang gelap?
Fungsi dari cawan petri diletakkan di tempat gelap yaitu untuk mempercepat proses perkecambahan. Hal ini terjadi karena paada tempat yang gelap, hormon auksin yang ada di dalam biji kacang hijau menjadi aktif dan merangsang pemanjangan sel-sel tumbuhan seperti akar.

X.                KESIMPULAN
Dari praktikum hormon tumbuhan ini dapat diperoleh kesimpulan :
  1. Biji yang memiliki prosentase pertumbuhan paling banyak dari keempat perlakuan ZPT adalah biji yang diimbibisikan dalam air dan IAA dengan prosentase keduanya sebesar 97%. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal, sedangkan fungsi IAA merupakan senyawa yang bertindak sebagai hormon auksin atau hormon pertumbuhan.
  2. Koefisien kontigensi dari data biji kacang hijau diperoleh nilai sebesar 0,063 dan koefisien kontigensi maksimum sebesar 0,707 yang menandakan bahwa korelasi antara biji dengan ZPT adalah rendah sekali.
XI.             DAFTAR PUSTAKA
Ismadi, M. H. 1993. Biokimia Umum. Gadjah Mada Press Yogyakarta.
Lakitan Benyamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Loveless, AR. 2002. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Daerah Tropik. Jakarta : PT.         Gramedia.
Purnobasuki, Hery. 1993. Panduan Praktikum Fisiologi Tumbuhan.
Salibury. B, dan Cleon W. 2001. Ross. Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB

No comments:

Post a Comment

Komentar kamu akan sangat berarti bagiku . . . so berikan komentar yang OK punya . . .